Kematian Timothy Mahasiswa Unud, Pakar Nilai Pendidikan Gagal Bentuk Mahasiswa Berkarakter
Dunia pendidikan selama ini masih terlalu berfokus pada kecerdasan akademik, tetapi mengabaikan pembinaan nilai empati dan moral sosial
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Eko Sutriyanto
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dunia pendidikan kembali diguncang kabar duka. Seorang mahasiswa Universitas Udayana (Unud) Bali, Timothy Anugerah Saputra, ditemukan meninggal dunia pada Selasa (15/10/2025).
Mahasiswa semester VII Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) ini diduga mengakhiri hidupnya diduga karena mengalami perundungan dari sesama mahasiswa di kampus.
Pengamat Pendidikan, Jejen Musfah buka suara.
Ia menilai kasus ini mencerminkan adanya kegagalan sistem pendidikan nasional dalam membentuk karakter murid dan mahasiswa.
Menurutnya, dunia pendidikan selama ini masih terlalu berfokus pada kecerdasan akademik, tetapi mengabaikan pembinaan nilai empati dan moral sosial.
Baca juga: Misteri Kematian Mahasiswa Unud Timothy Anugerah, Polisi Belum Simpulkan Bunuh Diri
“Kasus ini menunjukkan kegagalan pendidikan kita membentuk karakter murid dan mahasiswa,” ujarnya kepada Tribunnews, Senin (20/10/2025).
Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai dan prestasi akademik.
Tetapi juga dari kemampuan peserta didik untuk memahami, menghargai, dan menghormati sesama.
“Mungkin mereka cerdas secara akademik namun lemah secara emosional, sosial, dan spiritual. Mereka tidak memiliki empatik terhadap sesama mahasiswa,” lanjut Jejen.
Pentingnya Penguatan Karakter di Kampus
Jejen menjelaskan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian mahasiswa agar mampu menjadi manusia berkarakter dan bertanggung jawab.
Ia menilai, kurikulum pendidikan tinggi perlu kembali menekankan aspek moral dan sosial dalam proses belajar-mengajar.
“Pendidikan kita harus menekankan lagi pentingnya karakter atau kepribadian dan sosial mahasiswa. Setiap dosen harus menekankan penanaman karakter, juga kurikulumnya,” katanya.
Selain pendekatan akademik, ia mendorong setiap kampus untuk menegakkan Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan sesuai amanat Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 55 Tahun 2024.
Baca tanpa iklan