Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Adang Ancaman AI, Kurikulum Kampus Teknik Mulai Diselaraskan ke Pabrik

Dunia industri manufaktur kini menghadapi teka-teki besar: bagaimana mencetak tenaga kerja yang benar-benar siap pakai? 

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dodi Esvandi
zoom-in Adang Ancaman AI, Kurikulum Kampus Teknik Mulai Diselaraskan ke Pabrik
HO/IST
Penerima beasiswa Endress+Hauser Indonesia pada kegiatan Education Forum 2026 
Memuat video…

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Di tengah masifnya gempuran otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI), dunia industri manufaktur kini menghadapi teka-teki besar: bagaimana mencetak tenaga kerja yang benar-benar siap pakai? 

Ironisnya, cetakan kurikulum pendidikan sering kali masih tertinggal beberapa langkah di belakang lompatan teknologi yang diadopsi pabrik modern.

Kesenjangan kompetensi inilah yang mendasari pentingnya transformasi model pembelajaran di Indonesia. 

Salah satu strategi yang kini mendesak untuk diakselerasi adalah sistem vokasi ganda (dual vocational education), sebuah pola yang memadukan teori di ruang kelas dengan praktik intensif langsung di lini produksi industri.

Urgensi tersebut mengemuka dalam gelaran Education Forum 2026 yang berlangsung di The Westin Jakarta, Kamis (11/6/2026). 

Forum ini mempertemukan para pemangku kebijakan, pelaku industri otomasi, perwakilan Kedutaan Besar Swiss, hingga akademisi lintas kampus.

Teknologi Canggih Butuh Eksekutor Andal

Model vokasi ganda dinilai menjadi jangkar strategis, terutama saat industri harus bergerak dinamis di tengah ketidakpastian ekonomi global. 

Rekomendasi Untuk Anda

President Director Endress+Hauser Indonesia, Henry Chia, menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi yang lahir di era digital, nilai gunanya akan nol jika tidak diimbangi oleh kapasitas manusia yang mengoperasikannya.

"Hal terpenting bukanlah seberapa canggih teknologi yang kita hasilkan, melainkan bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan oleh manusia sehingga memberikan manfaat nyata bagi pelanggan," ujar Henry.

Komitmen industri dalam membuka ruang magang yang terstruktur menjadi krusial. 

Dalam lima tahun terakhir, geliat industri otomasi di dalam negeri ikut mendongkrak penyerapan tenaga kerja sebesar 4 persen, serta memicu kenaikan jumlah peserta magang hingga 10 persen.

Untuk memangkas jarak antara dunia kampus dan kebutuhan pasar kerja, industri perlu menyediakan platform pertukaran pengetahuan, lingkungan pembelajaran daring, serta pengalaman praktik langsung yang relevan. 

Langkah konkret ini salah satunya diwujudkan lewat penyaluran beasiswa bagi mahasiswa berprestasi di bidang teknik otomasi, seperti dari ITB, Politeknik Industri ATMI, Polman Bandung, hingga Swiss German University.

Baca juga: Porsi Ekspor Produk Manufaktur Diproyeksikan Naik Jadi 30 Persen

Revolusi AI dan Masa Depan Dunia Kerja

Tantangan bagi lulusan baru kini kian kompleks seiring masuknya kecerdasan buatan ke ruang-ruang produksi. 

AI tidak sekadar mengubah cara kerja, tetapi juga memaksa dunia pendidikan vokasi untuk mendefinisikan ulang keterampilan apa saja yang harus diajarkan kepada mahasiswa.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas