Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

AI dan Arsitektur Modern, Tantangan atau Peluang Baru?

Perkembangan AI kini merambah dunia arsitektur. Muncul pertanyaan: benarkah teknologi ini akan menggantikan peran arsitek?

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in AI dan Arsitektur Modern, Tantangan atau Peluang Baru?
Istimewa
AI MENGANCAM ARSITEK? - Generative design, BIM, dan kecerdasan buatan mengubah dunia arsitektur. Namun benarkah arsitek terancam? Deddy Wahjudi menjelaskan jawabannya dalam Podcast Ruang Ratih. 

TRIBUNNEWS.COM – Teknologi kecerdasan buatan (AI) berkembang sangat cepat dalam satu dekade terakhir. Hampir semua sektor mengalami dampaknya, termasuk dunia arsitektur. Berbagai proses yang dulu membutuhkan tenaga besar dan waktu panjang kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit. Hal inilah yang memunculkan pertanyaan: apakah perkembangan AI berarti profesi arsitek mulai terancam?

Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Riset Microeconomics Dashboard (Micdash), Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, menunjukkan bahwa 77 persen responden mengaku cemas AI akan menghilangkan pekerjaan manusia. Angka ini mencerminkan kuatnya perubahan yang tengah dirasakan masyarakat.

Bahkan, penerapan AI dalam dunia arsitektur sudah bukan di tahap wacana. Sejumlah proyek besar di dunia telah melibatkan AI dalam arsitektur. Contohnya dapat dilihat pada Shanghai Tower di Tiongkok. Menara setinggi 632 meter itu didesain menggunakan analisis berbasis AI untuk menentukan bentuk twisted yang membuat bangunan lebih stabil dan tahan angin. Teknologi tersebut membantu tim desain memahami tekanan angin ekstrem, sehingga struktur yang dihasilkan tetap aman sekaligus efisien.

Sementara itu di berbagai negara, perusahaan arsitektur global memanfaatkan generative design untuk merancang bangunan hemat energi. AI dapat memetakan orientasi cahaya, kebutuhan ventilasi, hingga potensi penggunaan material, lalu menawarkan desain yang tidak hanya menarik secara visual tetapi juga berkelanjutan.

AI Mengubah Cara Arsitek Bekerja

Dunia arsitektur pun mengalami transformasi besar. AI tidak lagi diperlakukan sebagai alat bantu tambahan, melainkan sudah menjadi bagian dari proses kreatif dan teknis sejak awal.

Salah satu teknologi yang paling banyak diterapkan adalah generative design. Melalui sistem ini, komputer bisa menghasilkan puluhan hingga ratusan opsi layout berdasarkan parameter yang dimasukkan arsitek, mulai dari ukuran tapak, arah matahari, kebutuhan ventilasi, hingga target efisiensi energi. Proses yang dulu memakan waktu berminggu-minggu kini dapat dilakukan secara instan, sehingga arsitek memiliki lebih banyak opsi untuk dianalisis.

Selain itu, AI semakin terintegrasi dengan Building Information Modeling (BIM). Kombinasi keduanya membuat berbagai pekerjaan teknis, seperti pembuatan denah, sistem utilitas, dan perhitungan struktur, dapat dilakukan lebih cepat dan presisi. AI juga mampu membaca preferensi klien, kondisi lingkungan sekitar, serta kebutuhan ruang, lalu memberikan rekomendasi desain yang lebih akurat. Hasilnya, komunikasi antara arsitek dan klien menjadi lebih efektif dan tepat sasaran.

Kekhawatiran Publik dan Realita di Lapangan

Rekomendasi Untuk Anda

Meskipun teknologi terus berkembang, pertanyaan besar tetap muncul: apakah arsitek akan tergantikan oleh AI?

Riset Micdash menunjukkan keresahan publik yang cukup tinggi, namun kenyataannya peran arsitek masih sangat penting. AI memang mampu memproses data dalam jumlah besar, memvisualisasikan alternatif desain, dan mengoptimalkan efisiensi. Tetapi elemen-elemen seperti intuisi kreatif, sensitivitas terhadap konteks sosial dan budaya, serta pemahaman mendalam tentang kebutuhan manusia tetap tidak dapat disubstitusi oleh mesin.

Karenanya, AI lebih tepat dipandang sebagai super asisten, bukan pengganti arsitek. Keputusan akhir tetap berada di tangan manusia yang memahami nilai, estetika, serta makna ruang secara utuh.

Tantangan atau Peluang?

Dalam laju perkembangan teknologi yang terus bergerak maju, tantangan terbesar bagi profesi arsitek adalah bagaimana beradaptasi. AI membuka banyak peluang, seperti desain lebih cepat, simulasi lingkungan yang akurat, penggunaan material yang efisien, hingga ruang kreativitas yang semakin luas berkat generative design.

Namun peluang itu datang bersama tantangan, mulai dari regulasi etika, kebutuhan reskilling, dan bagaimana memastikan bahwa sentuhan manusia seperti kreativitas, empati, dan jiwa ruang tetap menjadi inti arsitektur.

Pada akhirnya, masa depan profesi ini tidak bergantung pada siapa yang lebih kuat, manusia atau AI, melainkan seberapa baik keduanya bisa berkolaborasi.

Simak lebih lanjut diskusinya di Podcast Ruang Ratih Episode 4, hanya di kanal YouTube Semen Merah Putih. Dalam episode ini, kami berbincang dengan Deddy Wahjudi, seorang arsitek, akademisi, dan praktisi desain yang dikenal dengan pendekatannya pada konteks, makna, dan pengalaman ruang. Bersama beliau, kita membahas bagaimana AI mengubah dunia arsitektur, batasannya, serta peran baru arsitek di tengah perkembangan teknologi.

Baca juga: Semen Merah Putih Siapkan Ekspansi MPTree ke Ruang Publik, Gandeng Penyedia Transportasi Umum

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas