Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Lupakan Gadget, Puasa Lebih Menyenangkan dengan Permainan Tradisional

Puluhan anak dari Ponorogo dan kota sekitarnya di bagian Barat Jawa Timur ini seolah melupakan gadget mereka.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Anita K Wardhani
zoom-in Lupakan Gadget, Puasa Lebih Menyenangkan dengan Permainan Tradisional
IST/Sekolah Alam Bumi Langit Mulia
Suasana Ramadhan Super Camp di Sekolah Alam Bumi Langit Mulia (Sabila) Ponorogo, Jawa Timur. Pesantren Kilat yang menyatukan anak-anak dengan alam dan melupakan gadgetnya. 

TRIBUNNEWS.COM, PONOROGO - Gadget dan media sosial seolah tak bisa dilepaskan dari kehidupan anak-anak.

Waktu bermain mereka pun seperti tak bisa lepas dari alat-alat canggih yang menghubungkan anak-anak dengan dunia maya.

Pun, saat berpuasa. Tidak sedikit anak menghabiskan waktunya dengan mengakrabi gadget dan media sosial.

Namun, anggapan itu langsung ditepis puluhan anak peserta Ramadhan Super Camp di Sekolah Alam Bumi Langit Mulia (Sabila) Ponorogo.

Puluhan anak dari Ponorogo dan kota sekitarnya di bagian Barat Jawa Timur ini seolah melupakan gadget mereka.

Lihat betapa riuhnya sorak sorai mereka saat berkumpul memainkan permainan zaman dulu (jadul) seperti ingkling, gobak sodor dan lompat tali.

Rekomendasi Untuk Anda

Tak ada lagi 'senam' yang dilakukan jari mereka memainkan facebook, twitter, Instgram atau Path.

Gantinya, anak-anak ini justru bergerak bersama memainkan permainan tradisional sambil tertawa riang di bawah alam terbuka.

Sekolah yang baru saja dibuka ini menurut Direktur Sekolah Alam Bumi Langit Muli, Ivan Rahmawan Arifin memang sengaja menggelar Ramadhan Super Camp sebagai kegiatan alternatif hiburan liburan sekolah yang bertepatan dengan Ramadan ini.

"Selain bertujuan bisa kembali ke alam, yang paling menonjol mereka lupa gadget dan media sosial," ujar Ivan.

Pihaknya, ucap Ivan anak-anak sengaja dilupakan dengan gadgetnya.

"Kita berikan edukasi berupa permainan anak-anak atau dolanan tempo dulu kepada anak-anak.  Mereka kita perkenalkan pada permainan seperti gobak sodor, ingkling, cublak-cublak suweng dan lainnya," jelasnya.

Ivan mengatakan ternyata permainan ini membawa kebahagiaan tersendiri bagi anak-anak. Keceriaan, canda dan tawa pun terurai lepas.

Selama empat malam lima hari, para peserta menikmati indahnya bermain sambil menimba ilmu layaknya santri. Bedanya pesantren yang mereka ikuti ini dikemas lebih modern.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas