Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Mutiara Ramadan: Merawat Keutuhan Berbangsa

Reformasi yang awalnya diyakini akan mampu mengubah kondisi bangsa menjadi lebih baik, bebas dari korupsi dan nepotisme, kini keyakinan itu terkoreksi

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Mutiara Ramadan: Merawat Keutuhan Berbangsa
Tribun Jogja
Ilustrasi Pancasila 

Dalam kaitan ini, maaf, saya ragu, apakah para pimpinan parpol yang bernafsu ikut pemilu masih juga memiliki semangat dan tekad sebagaimana para pejuang dan pendiri bangsa dan negara ini?

Upacara Bendera
Upacara Bendera (Istimewa)

Rasa Kebersamaan

Di tengah suasana pesimisme ini, mari kita bangun optimisme berbangsa dengan kekuatan gagasan, integritas dan kesediaan untuk berkurban demi rakyat.

Indonesaia yang kita impikan (the imagined Indonesia) adalah sebuah cita-cita moral, politik dan peradaban yang masih jauh berada di depan, bukannya warisan masa lalu yang sudah jadi dan selesai.

Dengan demikian, yang namanya Indonesia bukan sekadar sebuah realitas agung (grand reality) dalam wujud geografis dan bentuk formal sebuah negara, melainkan sebuah amanat dan cita kebudayaan serta peradaban yang harus selalu dijaga dan diperjuangkan.

Jadi, Indonesia jangan sekadar dipahami sebagai sebuah kata benda, melainkan kata kerja dan perjuangan sejarah yang dinamis, yaitu: meng-Indonesia.

Kita semua secara sadar mesti terlibat dalam proses menjadi Indonesia karena di samping sebuah rumah peradaban, Indonesia juga merupakan sebuah identitas dan jati diri.

Rekomendasi Untuk Anda

Spirit itulah yang tercantum dalam Pancasila yang akhir-akhir ini kurang memperoleh apresiasi.

Saat ini sangat urgent untuk menemukan kembali grand solidarity, yaitu rasa kebersamaan untuk membangun bangsa, yang mampu mensinergikan "keakukan", menuju "kekamian" dan "kekitaan" dalam rumah besar yang bernama Indonesia.

Santri Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah membaca AlQuran ketika melaksanakan tadarus massal pada Ramadan 1439 H, di Medan, Sumatera Utara, Senin (21/5/2018). Kegiatan yang diikuti sedikitnya 2.500 santri tersebut, merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan pada bulan Ramadan.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Santri Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah membaca AlQuran ketika melaksanakan tadarus massal pada Ramadan 1439 H, di Medan, Sumatera Utara, Senin (21/5/2018). Kegiatan yang diikuti sedikitnya 2.500 santri tersebut, merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan pada bulan Ramadan.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI (TRIBUN MEDAN/Riski Cahyadi)

Munculnya sekian banyak parpol dan begitu kuatnya semangat otonomi daerah perlu diwaspadai jangan sampai malah menghancurkan bangunan "kekitaan" yang berujung pada "keakuan".

Di tengah suhu politik yang menghangat, mari kita temukan kembali dan pegang teguh komitmen dan cita-cita mulia mengapa Indonesia ini diperjuangkan lalu diproklamasikan.

Kita ganti tradisi kekerasan dan kemalasan dengan kedamaian, kecerdasan, dan kerja keras.

Kita wujudkan the imagined Indonesia sebagai sebuah civic nation sehingga nilai Pancasila bukan sekadar sebagai kontrak politik yang diposisikan sebagai ideologi negara, tetapi lebih merupakan living values dalam kehidupan birokrasi, sosial maupun politik.

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas