Jejak Kiai Umarulfaruq Abubakar, Perjalanan Panjang ke Mimbar Dakwah, dari Menyapu Lantai di Mesir
Menjadi seorang ulama bukanlah singkat. Tribunnews.com selama Ramadan 2026 akan menyajikan kisah inspiratif bertajuk CERITA PARA KIAI dalam episode.
Editor:
Anita K Wardhani
CERITA PARA KIAI Episode 1
Ringkasan Berita:
- Menjadi seorang ulama tentu merekam perjalanan panjang yang dilalui para Kiai.
- Tribunnews.com menyajikan kisah inspiratif bertajuk CERITA PARA KIAI dalam episode.
- Berikut Ini adalah seri CERITA PARA KIAI Episode 1.
TRIBUNNEWS.COM - Menjadi seorang ulama bukanlah singkat.Ada perjalanan panjang yang dilalui para Kiai.
Tribunnews.com selama Ramadan 2026 akan menyajikan kisah inspiratif bertajuk CERITA PARA KIAI dalam episode.
Berikut Ini adalah seri CERITA PARA KIAI Episode 1.
Baca juga: KH Cholil Nafis Ungkap Awal Mula Dipanggil Kiai di Layar Televisi
Pada episode pertama ini, yuk kita simak kisah Dr Umarulfaruq Abubakar, Lc., M.H.I menuju mimbar dakwah tidaklah singkat.
Kini, ia dikenal sebagai Ketua Majelis Syar’i PPTQ Ibnu Abbas Klaten dan Ketua Forum Maahid dan Madaris Quran Indonesia.
Umarulfaruq Abubakar pernah menyapu lantai dan menjadi petugas kebersihan demi bertahan hidup di negeri orang.
Jejak Umarulfaruq Abubakar berawal dari sebuah desa kecil di Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo.
Langkah Umarulfaruq Abubakar kecil diawali dari kampung yang tenang itu, cahaya Ramadhan selalu datang dengan cara yang istimewa.
Lampu-lampu minyak dinyalakan pada tiga malam terakhir bulan suci dalam tradisi Tumbilotohe. Cahaya kecil berkelip di sepanjang jalan, seolah menjadi penanda harapan.
Langkahnya hingga ke posisi saat ini melalui perjalanan yang tidaklah singkat. Ia pernah menyapu lantai dan menjadi petugas kebersihan demi bertahan hidup di negeri orang.
Cahaya dari Lingkungan Religius
Lantunan Ayat Suci dan nasihat para guru menjadi irama keseharian Umarulfaruq Abubakar.
Masa kecil Umar dihabiskan di lingkungan religius.
Rumahnya berdampingan dengan Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta, tempat ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah atas membuatnya akrab dengan kehidupan religi.
Baca tanpa iklan