Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Ramadan, Ruang Kantor, dan Ketulusan Bicara Kita

RAMADAN, bagi banyak orang, adalah sebuah jeda, sebuah interupsi di tengah kebisingan pasar yang tak pernah tidur.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Ramadan, Ruang Kantor, dan Ketulusan Bicara Kita
Dok Pribadi
kolumnis ramadan: Syamsul Kurniawan - Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat 

kolumnis ramadan
KOLUMNIS RAMADAN
Syamsul Kurniawan
Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat
kolumnis ramadan
KOLUMNIS RAMADAN
Syamsul Kurniawan
Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat


RAMADAN, bagi banyak orang, adalah sebuah jeda, sebuah interupsi di tengah kebisingan pasar yang tak pernah tidur.

 Namun, sering kali kita memasuki bulan ini dengan membawa sisa-sisa karat dari hari-hari biasa, yaitu sebuah kecenderungan untuk menghitung segala sesuatu dengan sempoa kepentingan.

Dalam ruang-ruang kantor yang pengap oleh pendingin udara, kita melihat betapa percakapan telah lama mati dan digantikan oleh instruksi. 

Di sana, kita bisa bercermin pada pemikiran Pierre Bourdieu (1977) mengenai habitus, yakni sistem disposisi atau kerangka mental yang kita warisi dari struktur sosial yang kaku. Habitus ini tanpa sadar telah memenjara lidah kita, sehingga kita berbicara bukan lagi untuk menyapa, melainkan untuk mengamankan posisi.

Seorang bawahan tegak berdiri dengan punggung yang dipaksakan lurus sembari memilih kata-kata yang struktural, kering, dan formal. Ia sedang mempertaruhkan modal sosialnya. Baginya, bahasa adalah perisai sekaligus senjata untuk bertahan dalam ranah atau arena persaingan yang kejam. Ia takut jika kata-katanya terlalu cair, maka wibawa atau jarak aman itu akan runtuh.

Namun, seorang atasan, jika ia memiliki kejernihan nurani, sering kali merasakan kesepian di puncak hierarki itu. Ia mendambakan sesuatu yang lebih dari sekadar laporan yang tertib. Ia merindukan komunikasi yang kekeluargaan, yang memiliki darah dan daging, bukan sekadar deretan fonem yang transaksional. Di sinilah letak tragedi itu, yakni kedua belah pihak terjebak dalam reproduksi struktur yang mereka benci sendiri.

Rekomendasi Untuk Anda

Interaksi menjadi sekadar pertukaran modal simbolik. Kita tidak lagi saling memandang sebagai manusia, melainkan sebagai fungsi-fungsi yang berjalan. Ramadhan seharusnya menjadi momen untuk membongkar habitus yang beku itu. Puasa bukan hanya soal mengosongkan lambung, tapi juga mengosongkan ego dari kalkulasi laba-rugi dalam hubungan antarmanusia. Ia adalah undangan untuk menanggalkan jubah struktural sejenak dan kembali pada keanggunan tutur kata yang baik.

Pentingnya berkata-kata baik bukan sekadar soal sopan santun yang dangkal, melainkan tentang menjaga martabat sesama. Sebuah ucapan yang santun dan pantas sering kali jauh lebih berharga daripada bantuan materi yang diberikan dengan sikap yang menyakitkan. Jika kita hanya mampu berkomunikasi secara mekanis, kita sedang mengabaikan esensi spiritualitas yang menuntut kita untuk melembutkan hati melalui lisan yang terjaga.


Bersikap cair, mengapa penting?

Kekakuan adalah praktik yang melanggengkan dominasi ketika kehangatan dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas kuasa. Namun, seorang pemimpin yang bijak akan menyadari bahwa modal budaya yang paling berharga bukanlah gelar, melainkan kemampuan untuk hadir secara utuh melalui tutur kata yang cair dan kekeluargaan. Bersikap cair adalah cara kita mengakui eksistensi manusia lain di luar fungsinya sebagai mesin produksi.

Ia ingin melampaui sekat-sekat protokoler agar kerja bukan lagi menjadi beban, melainkan sebuah kolektivitas yang organik. Namun, mengubah habitus tidak semudah membalik telapak tangan karena ia membutuhkan keberanian untuk menjadi rentan. Bagi seorang bawahan, bicara cair kepada atasan adalah sebuah risiko sosial, sedangkan bagi atasan, bersikap hangat adalah kerelaan untuk menanggalkan prestise simbolik demi sebuah koneksi yang lebih murni dan penuh ketulusan.

Ramadhan memberikan kita alasan yang sah untuk menjadi lembut. Di bulan ini, ada semacam pemakluman sosial untuk saling memaafkan dan mendekat. Inilah saatnya kita berhenti memperlakukan percakapan sebagai pasar gelap kepentingan. Bayangkan jika komunikasi di kantor tidak lagi seperti ketukan palu hakim, melainkan seperti gemericik air yang menyegarkan, jujur, dan tanpa pretensi.

Kita butuh habitus baru yang menghargai proses, bukan hanya hasil akhir yang terukur secara ekonomi. Sering kali kita lupa bahwa di balik seragam dan jabatan, ada narasi personal yang merindukan pengakuan. Jika kita hanya bicara saat ada perlunya, kita sebenarnya sedang membangun tembok dan bukan jembatan. Dan tembok itu, lambat laun, akan mengurung kita dalam kesunyian yang mencekam.

Praktik sosial kita selama ini mungkin telah terdistorsi oleh ambisi. Kita melihat rekan kerja sebagai kompetitor dalam memperebutkan modal yang terbatas. Ramadhan datang untuk mengingatkan bahwa bahkan dalam urusan profesional yang paling berat sekalipun, kita tetap memiliki kewajiban untuk menggunakan tutur kata yang pantas. Seorang atasan yang mampu memanusiakan bawahannya sebenarnya sedang menanam modal simbolik yang jauh lebih kuat daripada rasa takut.

Ia sedang membangun loyalitas yang lahir dari rasa hormat, bukan dari paksaan struktur. Kita harus belajar kembali seni mendengarkan, bukan mendengarkan untuk menjawab, tapi mendengarkan untuk memahami. Dalam komunikasi yang cair, ada ruang bagi ketulusan yang murni. Habitus komunikasi yang kekeluargaan akan melahirkan lingkungan yang sehat bagi jiwa.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas