Ramadan, Ruang Kantor, dan Ketulusan Bicara Kita
RAMADAN, bagi banyak orang, adalah sebuah jeda, sebuah interupsi di tengah kebisingan pasar yang tak pernah tidur.
Editor:
Anita K Wardhani
Di sana, kreativitas tumbuh bukan karena tekanan, melainkan karena rasa aman. Kita tidak lagi merasa perlu memakai topeng setiap kali pintu lift terbuka. Maka, biarlah Ramadhan kali ini menjadi laboratorium kecil bagi kita semua untuk mencoba menyapa tanpa maksud, untuk memberi tanpa mencatat, dan untuk berbicara tanpa harus selalu bertransaksi.
Karena pada akhirnya, hidup ini terlalu singkat jika hanya diisi oleh percakapan-percakapan yang alakadarnya. Kita butuh kedalaman untuk merasa benar-benar hidup di tengah dunia yang semakin dangkal dan bergegas. Semoga di ujung bulan ini, kita tidak hanya mendapatkan kemenangan atas rasa lapar, tapi juga kemenangan atas keangkuhan yang selama ini menjauhkan kita dari hangatnya persaudaraan yang tulus.
"Begitu transaksi usai, kita berbalik tanpa menoleh; seolah lawan bicara hanyalah sekadar jembatan menuju keinginan kita sendiri. Jarak yang membentang nyatanya bukan diciptakan oleh ruang, melainkan oleh hati yang hanya sudi terbuka jika ada laba yang ditawarkan. Ramadhan adalah waktu untuk meruntuhkan jembatan transaksional itu, menghidupkan kembali tutur kata yang mulia, dan mulai membangun rumah bagi ketulusan."
Baca tanpa iklan