Ramadhan Al-Ma’un: Berhenti Menjadi 'Pendusta Agama' di Bulan Suci
Ramadhan 2026 momentum membumikan Surah Al-Ma’un: puasa tak sekadar ritual, tapi gerakan empati dan aksi sosial nyata.
Editor:
Glery Lazuardi

SETIAP kali hilal Ramadhan tampak, keriuhan kita biasanya terjebak pada dua hal: yang pertama adalah jadwal imsakiyah dan yang kedua menu berbuka. Pada bulan mulia ini, masjid-masjid penuh, ayat-ayat suci bergema di setiap sudut.
Namun, di tengah gemuruh spiritualitas itu, sebuah pertanyaan besar membayangi kita: Apakah puasa kita tahun ini hanya akan menjadi ritual menahan lapar, atau akan bertransformasi menjadi gerakan kemanusiaan yang nyata?
Tahun 2026 ini, di tengah tantangan ekonomi global dan kesenjangan sosial yang masih menganga, pesan yang dimaktub dalam Surah Al-Ma’un menjadi sangat relevan sebagai kompas moral bagi umat Muslim yang sedang berpuasa.
Puasa sebagai "Shock Therapy" Empati
Surah Al-Ma’un memberikan tamparan keras bagi siapa saja yang merasa dirinya religius, namun abai terhadap realitas sosial seperti kemiskinan dan ketidakberdayaan kelompok marginal seperti anak yatim.
Surah ini dengan lugas menyebut mereka yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin sebagai "pendusta agama" (yukadzdzibu bid-din).
Ramadhan seharusnya menjadi momentum shock therapy. Lapar yang kita rasakan bukan sekadar simbolis, melainkan sebuah pintu masuk untuk memahami penderitaan jutaan orang yang kelaparannya tidak berujung dan berhenti karena azan Maghrib.
Lebih dari itu, surah Al-Ma’un mengingatkan kita bahwa kesalehan ritual (seperti salat dan puasa) sama sekali tidak bernilai di mata Allah SWT jika dipisahkan dari kesalehan sosial.
Fenomena "Kesalehan Elitis"
Seringkali, Ramadhan berubah menjadi bulan konsumerisme berbalut agama. Buka puasa bersama di hotel berbintang yang menyisakan tumpukan makanan sisa (food waste), yang kemudian seringkali berbanding terbalik dengan kondisi disekitar kita.
Jangan-jangan tetangga di belakang tembok yang ada disekitar kita sedang kebingungan mencari sepiring nasi.
Di sinilah Ramadhan Al-Ma’un yang dimaksud harus hadir. Konsep ini menantang kita untuk mendefinisikan ulang makna "berbagi" secara lebih luas dan mendalam.
Berbagi bukan lagi sisa dari kelebihan kita, melainkan bagian integral dari harta kita yang memang milik mereka yang membutuhkan.
Membumikan Al-Ma’un di Tahun 2026
Karenanya, ditahun ini menjadi momentum yang tepat untuk kita membumikan konsep Al-Ma’un dalam kehidupan sehari-hari. Namun bagaimana cara membumikannya hari ini?
- Zakat yang Memberdayakan: Bukan sekadar membagikan beras, tapi memastikan akses pendidikan bagi anak yatim agar rantai kemiskinan terputus.
- Filantropi Digital: Menggunakan kemudahan teknologi untuk menjangkau mereka yang tak terlihat oleh sistem bantuan pemerintah.
- Gaya Hidup Minimalis: Mengurangi kemewahan berbuka untuk dialokasikan pada subsidi pangan warga sekitar yang terdampak inflasi.
Penutup: Melampaui Lapar dan Dahaga
Jika setelah Ramadhan berakhir, angka kemiskinan di sekitar kita tidak bergeming, dan empati kita terhadap anak yatim tetap tumpul, maka barangkali kita termasuk golongan yang diperingatkan Al-Ma’un: Wailul lil mushallin—celakalah orang-orang yang salat, namun lalai dalam aksi nyata.
Ramadhan adalah momentum untuk berhenti menjadi "pendusta agama.".
Mari kita jadikan puasa kali ini sebagai momentum reformasi kemanusiaan. Sebab, Allah SWT tidak butuh lapar kita.
Karena yang Allah SWT cintai adalah bagaimana rasa lapar itu membuat kita tergerak untuk memastikan tidak ada lagi tangis dan kelaparan di siang dan malam hari di sekitar kita.