Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Ramadan Momentum Hijrah Hati dan Perilaku

Ramadan momentum hijrah hati dan perilaku: dari ritual menuju perubahan diri, karakter, dan kepedulian sosial yang berkelanjutan.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Ramadan Momentum Hijrah Hati dan Perilaku
Dok Pribadi
kolumnis ramadan: Eko Bahtiar, SE., Sy., M.EI., AWP - Kaprodi Perbankan Syariah FEBI IAIN Pontianak 

kolumnis ramadan
KOLUMNIS RAMADAN
Eko Bahtiar, SE., Sy., M.EI., AWP
Kaprodi Perbankan Syariah FEBI IAIN Pontianak

SETIAP tahun ketika bulan Ramadan tiba, umat Islam di seluruh dunia memasuki sebuah fase spiritual yang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Suasana berubah. Ritme hidup bergeser.

Masjid-masjid menjadi lebih hidup, lantunan ayat suci terdengar lebih sering, dan percakapan tentang makna hidup, dosa, ampunan, serta harapan akan masa depan yang lebih baik menjadi lebih akrab di telinga. 

Namun, di balik semua ritual dan tradisi yang menyertainya, Ramadan sejatinya menawarkan sesuatu yang jauh lebih dalam: momentum hijrah perpindahan hati dan perubahan perilaku. Istilah “hijrah” sering kali dipahami secara simbolik sebagai perubahan dari kondisi yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik.

Secara historis, hijrah merujuk pada peristiwa monumental ketika Nabi Muhammad SAW berpindah dari Makkah ke Madinah demi menjaga dan mengembangkan dakwah Islam.

Peristiwa Hijrah itu bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan transformasi sosial, politik, dan spiritual. Dalam konteks kekinian, hijrah lebih relevan dipahami sebagai transformasi batin sebuah komitmen untuk memperbaiki diri secara menyeluruh.

Ramadan menyediakan ruang dan waktu yang ideal untuk proses hijrah tersebut. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan amarah, mengendalikan hawa nafsu, serta mengelola emosi dan pikiran.

Rekomendasi Untuk Anda

Dalam kondisi lapar, manusia dipaksa untuk berhadapan dengan dirinya sendiri. Ia belajar bahwa banyak dorongan dalam hidupnya bukanlah kebutuhan, melainkan keinginan. Di sinilah hijrah hati bermula: dari kesadaran bahwa diri ini rapuh, lemah, dan membutuhkan bimbingan Ilahi.

Hijrah hati berarti menggeser orientasi hidup dari sekadar duniawi menuju keseimbangan antara dunia dan akhirat. Di luar Ramadan, kita mudah terjebak dalam rutinitas yang serba cepat pekerjaan, target, ambisi, kompetisi, dan tekanan sosial. Hati menjadi keras tanpa disadari.

Empati menipis, ibadah menjadi formalitas, dan relasi dengan Tuhan terasa jauh. Ramadan hadir sebagai “rem darurat” spiritual. Ia menghentikan laju yang terlalu cepat dan memaksa kita untuk merenung.

Ketika seseorang bangun pada sepertiga malam untuk sahur dan kemudian menunaikan salat malam, ia sedang melatih hatinya untuk peka. Ketika ia memilih untuk tidak membalas kemarahan orang lain karena sedang berpuasa, ia sedang membangun benteng kesabaran. Ketika ia menyisihkan sebagian rezekinya untuk bersedekah, ia sedang membersihkan jiwanya dari sifat kikir.

Semua ini adalah bentuk-bentuk hijrah yang konkret. Namun, hijrah hati tidak cukup jika tidak diikuti oleh hijrah perilaku. Banyak orang merasakan suasana religius selama Ramadan, tetapi kembali pada kebiasaan lama setelah bulan itu berakhir. Tantangan terbesar bukanlah menjadi baik selama tiga puluh hari, melainkan mempertahankan kebaikan itu setelahnya.

Di sinilah Ramadan harus dipahami sebagai sekolah karakter, bukan sekadar agenda tahunan. Dalam konteks sosial, hijrah perilaku dapat dimaknai sebagai perubahan cara kita berinteraksi dengan sesama. Puasa mengajarkan solidaritas. Rasa lapar membuat kita lebih memahami penderitaan mereka yang hidup dalam kekurangan setiap hari.

Jika setelah Ramadan kita masih abai terhadap kemiskinan, ketidakadilan, dan kesenjangan sosial, maka ada yang kurang dalam penghayatan puasa kita.

Ramadan juga menjadi momentum untuk hijrah dari budaya konsumtif menuju budaya reflektif. Ironisnya, di banyak tempat, bulan yang seharusnya identik dengan kesederhanaan justru berubah menjadi festival belanja dan pamer kemewahan.

Diskon besar-besaran, promosi makanan berlimpah, dan gaya hidup yang serba berlebihan sering kali menenggelamkan esensi spiritual Ramadan. Padahal, puasa sejatinya melatih kita untuk merasa cukup.

Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas