Ramadan saat Musibah, Menag Ingatkan Hikmah Ujian sebagai Kenaikan Kelas
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat untuk merenungi makna musibah dan penderitaan sebagai bagian dari proses kenaikan martabat manusia.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Ringkasan Berita:
- Hikmah puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga diresapi.
- Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat untuk merenungi makna musibah dan penderitaan sebagai bagian dari proses kenaikan martabat manusia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tak sedikit yang menjalani puasa Ramadan.. Disinilah hikmah puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga diresapi.
Memasuki hari keenam, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat untuk merenungi makna musibah dan penderitaan sebagai bagian dari proses kenaikan martabat manusia.
Dalam refleksinya bertajuk Berdamailah dengan Musibah, Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa ujian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.
“Di mana ada ujian di situ ada kenaikan kelas.Tanpa ujian sulit menggapai kenaikan kelas,"ungkap Nasaruddin dalam keterangannya, Selasa (24/2/2026).
Menurutnya, musibah sejatinya adalah ujian. Dan tanpa ujian, seseorang sulit mencapai tingkat kematangan yang lebih tinggi.
Musibah Bukan Hukuman, Tapi Proses Kenaikan Martabat
Banyak orang melihat musibah sebagai hukuman atau tanda keburukan. Padahal, dalam perspektif spiritual, musibah bisa menjadi jalan peningkatan kualitas diri.
Nasaruddin Umar menekankan bahwa di balik setiap penderitaan ada rahasia Tuhan yang tak mudah ditebak.
Alquran pun banyak mengajak manusia untuk bersabar, karena musibah dapat menjadi tanda kasih sayang Tuhan.
“Penderitaan atau musibah sesungguhnya adalah ‘surat cinta Tuhan’,"lanjutnya.
Maknanya, musibah bukan sekadar cobaan yang menyakitkan, tetapi juga undangan untuk lebih dekat kepada Sang Pencipta.
Saat manusia berada dalam kesulitan, biasanya nama Allah yang pertama kali disebut.
Sebaliknya, ketika diuji dengan kemewahan, jabatan, atau pangkat, manusia justru sering lalai.
Belajar dari Nabi Yusuf dan Nabi Ayyub
Dalam tulisannya, Nasaruddin Umar menyinggung kisah Nabi Yusuf yang memilih penjara daripada mengikuti ajakan yang bertentangan dengan hati nurani.
“Rab al-sijn ahbbu ilaiyya” (Ya Allah penjara aku lebih sukai) (Q.S. Yusuf/12:33).
Baca tanpa iklan