Mutiara Ramadan, Menggapai Ketenangan Batin saat Puasa Hari Ketujuh
Kita bisa dengan mudah menasehatkan ketenangan batin kepada orang lain, tetapi kita sendiri kadang sulit mengamalkannya.
Editor:
Anita K Wardhani
Mutiara Ramadan
Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
TRIBUNNEWS.COM - Kita bisa dengan mudah menasehatkan ketenangan batin kepada orang lain, tetapi kita
sendiri kadang sulit mengamalkannya.
Baca juga: Mutiara Ramadan, Berdamailah dengan Musibah, Jangan Takut
Demikian disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar alam Mutiara Ramadan Tribunnews.com di hari ketujuh bulan Ramadan.
Kesulitan tidak terletak pada bagaimana memahami hakekat ketenangan itu tetapi bagaimana bersahabat dengan kenyataan apapun yang dialami setiap hari. Ketengan batin lebih merupakan akibat daripada sebuah proses.
Sebagian orang mengemukakan bahwa ketenteraman batin merupakan anugrah Tuhan. Karena itu kita perlu
memahami kiat-kiat mempertahankannya.
Kondisi batin yang paling perlu diwaspadai ialah ketika kita sedang dalam keadaan normal, yaitu ketika semua kebutuhan tercukupi dan mungkin berlebihan.
Musibah, hajat, dosa besar, dan berbagai kesulitan dan kekecewaan hidup lainnya lebih sering mendorong seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT ketimbang kondisi
batin yang sedang berkecukupan, baik dari segi kauantitatif maupun segi kualitatif.
Memang tingkat kebutuhan hidup setiap orang berbeda-beda. Islam pun memperkenalkan beberapa tingkatan kebutuhan.
- 1. Kebutuhan dharury, yakni kebutuhan pokok atau basic needs seperti kebutuhan akan makan, minum, dan berhubungan suami-isteri.
- 2. Kebutuhan hajjiyat, yakni kebutuhan yang penting tetapi belum menjadi kebutuhan pokok, seperti
kebutuhan akan sebuah tempat tinggal, kedaraan, dan alat komunikasi. - 3. Kebutuhan tahsiniyyat,
yakni kebutuhan yang bersifat pelengkap (luxury), seperti perabotan yang bermerek, aksessoris
kendaraan, dan telepon genggam canggih.
Seseorang yang berada dalam tingkat kedua dan ketiga perlu berhati-hati karena perjalanan spiritual dalam kondisi seperti ini seringkali jalan di tempat. Bahkan berpeluang untuk diajak turun oleh berbagai daya tarik dan godaan dunia.
Berbeda jika seseorang sedang dirundung duka, sedang diuji dengan kebutuhan mendesak, atau sedang dilanda penyesalan dosa yang mungkin agak resisten terhadap godaan-godaan yang bersifat materi.
Ada dua beban hidup yang tidak bisa satu atap dengan ketenangan, yaitu beban rasa bersalah dan beban rasa bersalah. Beban rasa berdosa terjadi jika seseorang rajin menumpuk dosa dan pelanggaran perintah dan ajaran Tuhan, seperti berzina, berbohong, korupsi, dan membicarakan aib orang lain.
Rasa bersalah terjadi jika seseorang sering berbuat kesalahan kepada saudaranya sendiri, seperti tidak menepati janji, khianat, mendhalimi, memfitnah, dll.
Selama rasa berdosa dan rasa bersalah ini tidak dibersihkan tidak akan pernah ada ketenangan abadi.
Bulan suci Ramadan datang untuk mensucikan kita. Disebut Ramadan, artinya membakar, yaitu diharapkan mampu membakar hangus seluruh dosa-dosa yang pernah dilakukan. Dengan demikian rasa berdosa bisa hilang seiring dengan banyaknya amal kebajikan yang dilakukan di dalam bulan Ramadhan. Allah berfirman: Innl hasanat yudzhibnas sayyi’at
(sesungguhnya perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa/Q.S. Hud/11:114).
Baca tanpa iklan