Mengenal Cara Menghindari Skandal Spiritual
Dalam lintasan sejarah dunia Islam, skandal spiritual menyebabkan jatuhnya sejumlah makhluk dari langit kebahagiaan ke bumi penderitaan.
Editor:
Anita K Wardhani
Mungkin ia melaksanakan puasa Senin-Kamis, salat-salat rawatib tidak ada yang ditinggalkan, dan zikirnya jalan terus, lalu dengan enteng memandang enteng orang lain yang tidak seperti dengannya.
Amal-amal kebajikannya lebih banyak digunakan untuk mengaktualisasikan diri sehingga orang takjub dan menikmati pujian-pujian mereka.
Padahal mungkin yang bersangkutan pada saat yang bersamaan ia meninggalkan aib-aiab dan dosa-dosa langganan yang terus-menerus dilakukan. Hanya karena keterampilannya menggunakan topeng-topeng kepalsuan maka ia tidak dipermalukan orang lain.
Kesombongan spiritual tetap akan menjadi tantangan umat masa depan. Bahkan mungkin
akan semakin meningkat seiring dengan makin berkembangnya alat komunikasi canggi yang
dapat digunakan untuk memuji atau menerima pujian.
Ada fenomena, jika tidak ada yang memuji, misalnya dengan mencium tangan atau berbagai macam bentuk kultus lainnya, maka seharian itu kehilangan semangat. Semakin banyak yang memujinya semakin mabuk dengan pujian itu lantas rekayasa dilakukan sedemikian rupa agar orang lain memujinya. Subhanallah.