Posting Ibadah di Media Sosial, Riya atau Tidak? Ini Bahaya yang Harus Diwaspadai
Saat ini banyak orang berlomba memperbanyak amal, dari salat, puasa, sedekah, dan aktivitas dakwah yang kini juga kerap dibagikan melalui media sosial
Editor:
willy Widianto
Ringkasan Berita:
- Dalam gambaran hari kiamat, orang-orang yang beramal karena riya akan diperintahkan untuk meminta balasan kepada manusia yang dahulu menjadi tujuan amal mereka
- Para ulama menganjurkan agar setiap muslim senantiasa memohon kepada Allah agar diberikan hati yang tulus
- Keikhlasan adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah semangat umat Islam menjalankan berbagai ibadah, terutama pada momentum Ramadan dan hari-hari penuh keberkahan lainnya, ada satu hal mendasar yang sering luput dari perhatian: niat dan keikhlasan.
Saat ini banyak orang berlomba memperbanyak amal, dari salat, puasa, sedekah, hingga aktivitas dakwah yang kini juga kerap dibagikan melalui media sosial. Namun pertanyaannya, apakah seluruh amal tersebut benar-benar dilandasi ketulusan semata-mata karena Allah SWT?
Menurut Ustaz Rikza Maulan dalam program Tanya Ustadz Kerjasama Tribun dan Rumah Zakat disebutkan bahwa para ulama sebenarnya sudah mengingatkan, diterima atau tidaknya ibadah bukan hanya diukur dari besarnya amalan, melainkan dari kebersihan niat di dalam hati.
Dalam sebuah hadis yang sangat masyhur, Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang ia niatkan.
"Hadis ini menjadi fondasi utama dalam memahami pentingnya keikhlasan dalam beribadah," ujar Ustaz Rikza.
Menurut sebagian ulama, hadis tersebut memiliki latar belakang peristiwa (asbabul wurud). Dikisahkan ada seorang lelaki yang berhijrah dari Makkah ke Madinah. Secara lahiriah, hijrah adalah amal besar yang bernilai tinggi di sisi Allah. Namun lelaki tersebut berhijrah bukan karena ingin menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, melainkan karena ingin menyusul seorang wanita bernama Ummu Qais yang telah lebih dahulu hijrah ke Madinah.
Ia rela meninggalkan kampung halamannya demi wanita yang dicintainya. Rasulullah SAW kemudian mengingatkan melalui sabda beliau bahwa siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan balasan dari Allah dan Rasul-Nya. Namun siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia hanya akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Lelaki tersebut kemudian dikenal dengan julukan “Muhajir Ummu Qais”.
Kisah ini menegaskan bahwa nilai amal tidak hanya terletak pada bentuk lahiriah, melainkan pada niat yang tersembunyi di dalam hati.
Menampakkan Ibadah, Bolehkah?
Di era digital saat ini, muncul pertanyaan baru: apakah memperlihatkan atau memposting ibadah di media sosial menjadi tanda tidak ikhlas?
Para ulama menjelaskan bahwa menampakkan amal tidak otomatis berarti riya. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa orang-orang yang bersedekah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, tetap mendapatkan pahala dari Allah SWT. Artinya, yang menjadi ukuran utama tetaplah niat.
Namun demikian, menampakkan amal memang lebih berat dalam menjaga keikhlasan. Ketika amal diketahui banyak orang, muncul potensi pujian, apresiasi, hingga pengakuan sosial yang dapat menggoyahkan hati. Di sinilah seseorang dituntut untuk mengukur dirinya sendiri: apakah ia mampu menjaga niatnya tetap lurus karena Allah, atau justru mudah tergelincir pada keinginan untuk dipuji?
Jika tujuan menampilkan amal adalah untuk menginspirasi dan memotivasi orang lain berbuat kebaikan, serta hati tetap terjaga, maka hal tersebut diperbolehkan. Namun jika merasa sulit menjaga keikhlasan, menyembunyikan amal bisa menjadi pilihan yang lebih aman.
Baca tanpa iklan