Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Tata Cara Sholat Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, 14 Ramadhan 1447 H

Panduan lengkap pelaksanaan sholat gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, mulai dari niat hingga khutbah, guna membantu menjalankan ibadah dengan khusyuk.

zoom-in Tata Cara Sholat Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, 14 Ramadhan 1447 H
SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
SHOLAT GERHANA - Ribuan jamaah melaksanakan ibadah sholat sunnah gerhana di Masjid Nasional Al-Akbar dipimpin oleh imam KH A Muzakky Al Hafidz. Panduan lengkap pelaksanaan sholat gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, mulai dari niat hingga khutbah, guna membantu menjalankan ibadah dengan khusyuk. 

Ringkasan Berita:
  • Gerhana Bulan Total yang diprediksi akan terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026, bertepatan dengan malam hari ke-14 Ramadhan 1447 H.
  • Umat Islam sangat dianjurkan untuk mengisi waktu terjadinya fenomena ini dengan melaksanakan sholat sunnah gerhana.
  • Pelaksanaan sholat gerhana Bulan Total dapat dilakukan secara berjamaah di masjid maupun secara sendirian.

TRIBUNNEWS.COM - Umat Muslim di Indonesia, bersiap menyambut fenomena alam yang luar biasa sekaligus sarat akan makna spiritual, yakni Gerhana Bulan Total yang diprediksi akan terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026 (Selasa Wage). 

Peristiwa astronomis ini menjadi kian istimewa karena bertepatan dengan malam ke-14 di bulan suci Ramadan 1447 H, sebuah momentum di mana bulan sedang berada dalam fase purnama sempurna di tengah suasana penuh keberkahan ibadah puasa. 

Dalam pandangan Islam, gerhana Bulan Total adalah salah satu tanda kebesaran Allah SWT yang ditujukan untuk mempertebal iman dan rasa takut hamba-Nya kepada Sang Pencipta. 

Oleh karena itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk mengisi waktu terjadinya fenomena ini dengan melaksanakan sholat sunnah gerhana (Khusuf al-Qamar), memperbanyak zikir, sedekah, serta memohon ampunan sebagai bentuk refleksi atas kekuasaan-Nya yang tak terbatas.

Melaksanakan sholat gerhana bulan memiliki tata cara yang berbeda dari sholat sunnah pada umumnya, di mana terdapat keunikan berupa dua kali berdiri dan dua kali rukuk dalam setiap rakaatnya.

Bagi masyarakat yang ingin meraih kesempurnaan ibadah di malam pertengahan Ramadan 1447 H tersebut, sangat penting untuk memahami urutan gerakan serta bacaan niat yang benar agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. 

Rekomendasi Untuk Anda

Dikutip dari Muhammadiyah Jateng, dasar melaksanakan sholat Gerhana berasal dari Aisyah hadist riwayat an-Nasai:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَسَفَتِ الشَّمْسُ فَأَمَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا فَنَادَى أَنِ الصَّلَاةَ جَامِعَةً فَاجْتَمَعَ النَّاسُ فَصَلَّى بِهِمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَبَّرَ ......... ثُمَّ تَشَهَّدَ ثُمَّ سَلَّمَ فَقَامَ فِيهِمْ فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَأَيُّهُمَا خَسَفَ بِهِ أَوْ بِأَحَدِهِمَا فَأَفْزَعُوا إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِذِكْرِ الصَّلَاةِ [رواه النسائي.

Artinya: "Dari 'Aisyah (diriwayatkan) ia berkata: Pernah terjadi gerhana Matahari lalu Rasulullah saw memerintahkan seseorang menyerukan aş-salātu jämi'ah. Kemudian orang-orang berkumpul, lalu Rasulullah saw salat mengimami mereka. Beliau bertakbir....., kemudian membaca tasyahhud, kemudian mengucapkan salam. Sesudah itu beliau berdiri di hadapan jamaah, lalu bertahmid dan memuji Allah, kemudian bersabda: Sesungguhnya Matahari dan Bulan tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang, akan tetapi keduanya adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah. Oleh karena itu apabila yang mana pun atau salah satunya mengalami gerhana, maka segeralah kembali kepada Allah dengan zikir melalui salat [HR. an-Nasai]."

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَقَامَ وَكَبَّرَ وَصَفَ النَّاسُ وَرَاءَهُ فَاقْتَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ قَامَ فَاقْتَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةٌ هِيَ أَدْنَى مِنَ الْقِرَاءَةِ
الْأُولَى ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا هُوَ أَدْنَى مِنَ الرُّكوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ سَجَدَ - وَلَمْ يَذْكُرْ أَبُو الطَّاهِرِ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الْأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى اسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ وَالْجَلَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ ثُمَّ قَامَ فَخَطَبَ النَّاسَ فَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَافْزَعُوا لِلصَّلَاةِ [رواه مسلم].

Artinya: "Dari 'Aisyah, istri Nabi saw, (diriwayatkan) ia berkata: Pernah terjadi gerhana Matahari pada masa hidup Nabi saw. Lalu beliau keluar ke mesjid, kemudian berdiri dan bertakbir dan orang banyak berdiri bersaf-saf di belakang beliau. Rasulullah saw membaca (al-Fatihah dan surah) yang panjang, kemudian bertakbir, lalu rukuk yang lama, kemudian mengangkat kepalanya sambil mengucapkan sami'allāhu li man hamidah, rabbanā wa lakal-hamd, lalu berdiri lurus dan membaca (al-Fatihah dan surah) yang panjang, tetapi lebih pendek dari yang pertama, kemudian bertakbir lalu rukuk yang lama, namun lebih pendek dari rukuk pertama, kemudian mengucapkan sami allāhu li man hamidah, rabbanā wa lakal-hamd, kemudian beliau sujud. Sesudah itu pada rakaat terakhir (kedua) beliau melakukan seperti yang dilakukan pada rakaat pertama, sehingga selesai mengerjakan empat rukuk dan empat sujud. Lalu matahari terang (lepas dari gerhana) sebelum beliau selesai salat. Kemudian sesudah itu beliau berdiri dan berkhutbah kepada para jamaah di mana beliau mengucapkan pujian kepada Allah sebagaimana layaknya, kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihatnya, maka segeralah salat [HR Muslim]."

Pelaksanaan ibadah ini dapat dilakukan secara berjamaah di masjid maupun secara sendirian (munfarid), yang dimulai sejak awal dimulainya gerhana hingga bulan kembali bersinar terang. 

Dalam artikel ini, kami merangkum panduan lengkap mengenai langkah-langkah pelaksanaan sholat gerhana, mulai dari niat hingga khutbah, guna membantu menjalankan ibadah ini dengan khusyuk di tengah kemuliaan malam Ramadan 2026.

Baca juga: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026: Puncak Blood Moon Ramadan 18.34 WIB Terlihat Luas di Indonesia

Waktu Pelaksanaan Sholat Gerhana Bulan Total

Sholat gerhana Bulan Total tanggal 3 Maret 2026 dilaksanakan pada saat terjadi gerhana sampai dengan usai gerhana.

Setelah gerhana usai sementara salat masih ditunaikan, maka sholat tetap dilanjutkan dengan memperpendek bacaan.

Orang yang dapat mengerjakan sholat gerhana adalah mereka yang mengalami gerhana atau berada di kawasan yang dilintasi gerhana. 

Sementara bagi orang yang berada di kawasan yang tidak dilintasi gerhana tidak perlu mengerjakan salat gerhana. 

GERHANA BULAN TOTAL - Fase fenomena alam gerhana bulan total atau blood moon terlihat di langit Jakarta pada Senin dini hari (8/9/2025). Blood moon atau bisa diartikan gerhana bulan merah darah dapat terlihat di Sebagian wilayah Indonesia jika langit cerah mulai Minggu, 7 September 2025 pukul 22.26 WIB, 23.26 Wita, atau 00.26 WIT hingga puncak gerhana akan terjadi pada Senin 8 September 2025 pukul 01.11 WIB, 02.11 Wita, atau 03.11 WIT. Fenomena gerhana ini terjadi saat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus atau sejajar. TRIBUNNEWS/HERUDIN
GERHANA BULAN TOTAL - Fase fenomena alam gerhana bulan total atau blood moon terlihat di langit Jakarta pada Senin dini hari (8/9/2025). Blood moon atau bisa diartikan gerhana bulan merah darah dapat terlihat di Sebagian wilayah Indonesia jika langit cerah mulai Minggu, 7 September 2025 pukul 22.26 WIB, 23.26 Wita, atau 00.26 WIT hingga puncak gerhana akan terjadi pada Senin 8 September 2025 pukul 01.11 WIB, 02.11 Wita, atau 03.11 WIT. Fenomena gerhana ini terjadi saat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus atau sejajar. TRIBUNNEWS/HERUDIN (TRIBUNNEWS/HERUDIN)
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas