Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Khutbah Jumat, 27 Februari 2026: Etika Bermedsos di Bulan Ramadan

Teks Khutbah Jumat, 27 Februari 2026, berjudul Etika Bermedsos di Bulan Ramadan: Menjaga Lisan dan Jejak Digital.

Penulis: Lanny Latifah
Editor: Nuryanti
zoom-in Khutbah Jumat, 27 Februari 2026: Etika Bermedsos di Bulan Ramadan
Tribun Medan/Danil Siregar
ILUSTRASI SALAT - Umat Islam melaksanakan salat tarawih perdana di Masjid Agung, Medan, Rabu (18/2/2026). Simak inilah Teks Khutbah Jumat, 27 Februari 2026, berjudul Etika Bermedsos di Bulan Ramadan: Menjaga Lisan dan Jejak Digital. TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR 

TRIBUNNEWS.COM - Khutbah Jumat, 27 Februari 2026, berjudul "Etika Bermedsos di Bulan Ramadan: Menjaga Lisan dan Jejak Digital."

Khutbah Jumat merupakan ceramah agama yang disampaikan oleh seorang khatib sebelum pelaksanaan salat Jumat.

Pada kesempatan khutbah Jumat yang penuh berkah ini, khatib mengangkat tema penting yakni tentang bagaimana beretika di medsos selama bulan Ramadan.

Tema ini menjadi pengingat bagi umat Islam agar senantiasa menjaga "lisan digital" baik dalam berntuk tulisan, komentar, emoji, dan unggahan yang dapat menyakiti orang lain.

Melansir laman simbi.kemenag.go.id, berikut teks khutbah Jumat 27 Februari 2026:

Baca juga: 3 Teks Khutbah Jumat Awal Ramadhan 2026 dengan Berbagai Tema dan Judul

Etika Bermedsos di Bulan Ramadan: Menjaga Lisan dan Jejak Digital

 ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ. ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ. قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ فِي كِتَابِهِ ٱلْكَرِيمِ. مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ.

Jemaah salat Jum’at yang dicintai Allah Swt,

Saya berwasiat kepada diri saya dan jemaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa bukan hanya terlihat dalam ibadah lahiriah, tetapi tercermin dari sikap mengendalikan diri saat tidak ada yang melihat termasuk saat kita berselancar di dunia maya.

Rekomendasi Untuk Anda

Salah satu hikmah puasa adalah melatih muraqabah - مُرَاقَبَة atau merasa diawasi oleh Allah setiap saat. Saat kita sendirian, kita tidak makan dan minum karena yakin Allah mengawasi atau melihat amal perbuatan manusia. Tetapi pertanyaannya, apakah kesadaran itu juga hadir saat kita memegang gawai?

Seringkali kita sangat berhati-hati menjaga ucapan di mimbar, di majelis, atau di depan atasan. Tetapi ketika berada di balik layar, kita merasa bebas berkata apa saja. Padahal Allah tetap Maha Melihat dan Maha Mendengar.

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

"Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?” (Q.S. Al-‘Alaq [96]: 14)

Rasulullah saw mengingatkan, bahwa banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Mengapa? Karena lisannya tidak dijaga. Dalam hadis diterangkan, yakni;

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ.

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar, dan betapa banyak orang yang salat malam, tidak mendapatkan dari qiyamnya kecuali begadang”. (Sunan Ibn Majah No. 1690)

Di era digital seperti saat ini, lisan kita dapat berubah bentuk menjadi tulisan, komentar, emoji, dan unggahan yang dapat menyakiti orang lain. Tanpa disadari, “lisan digital” tersebut berubah menjadi dosa digital yang mungkin sering kita anggap ringan. Dosa-dosa digital yang dianggap ringan tersebut bisa saja mengurangi pahala kebaikan yang pernah kita buat, sebagaimana digambarkan dalam sebuah hadis:

إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ, أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ».

“Sesungguhnya orang yang muflis dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Namun dia juga datang dalam keadaan pernah mencaci si ini, menuduh si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu, dan memukul si ini. Maka diberikanlah kepada mereka (orang-orang yang dizalimi) pahala kebaikannya. Jika pahala kebaikannya telah habis sebelum selesai membayar kesalahannya, maka diambil dosa-dosa mereka lalu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (H.R. Imam Muslim No. 2581).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas