Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar Tapi Latihan Mendekati Tuhan

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat melihat puasa dari sisi yang lebih dalam, belajar dan meneladani sifat-sifat Tuhan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar Tapi Latihan Mendekati Tuhan
Tribunnews.com
ILUSTRASI GORENGAN - Gorengan adalah salah satu menu favorit masyarakat Indonesia untuk berbuka puasa. Ramadan sering dipahami sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga.  

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Puasa Rahamadan bukan sekadar menahan lapar dan haus. 
  • Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat melihat puasa dari sisi yang lebih dalam.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ramadan sering dipahami sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga. 

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat melihat puasa dari sisi yang lebih dalam, belajar dan meneladani sifat-sifat Tuhan.

Baca juga: Puasa Obat Kedunguan

Dalam refleksinya berjudul Belajar dari Sifat-sifat Tuhan, ia menegaskan bahwa salah satu hikmah puasa adalah proses internalisasi nilai ilahiah ke dalam diri manusia.

Nabi pernah bersabda, “Takhallaqu bi akhlaqillah” (berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah SWT).

Rekomendasi Untuk Anda

Pesan ini bukan sekadar ajakan moral, tetapi arah spiritual. Puasa menjadi latihan konkret untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara meniru sifat-sifat-Nya.


Menahan Diri, Sekaligus Belajar Memberi

Alquran menyebutkan, “huwa yuth’im wa la yuth’am” (Tuhan memberi makan dan tidak diberi makan) (Q.S.6:14). 

Dalam puasa, manusia tidak makan dan minum pada siang hari, tetapi diwajibkan membayar zakat fitrah untuk memberi makan kepada yang membutuhkan.

Di sinilah letak keseimbangan spiritual itu. Menahan diri bukan untuk menyiksa, melainkan untuk membentuk empati dan kepedulian.

Tujuan akhirnya adalah mencapai derajat muttaqin. 

Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S. al-Baqarah/2:183).

Muttaqin bukan sekadar orang yang takut kepada Tuhan. Kata tersebut mengandung makna kombinasi cinta, hormat, dan kesadaran mendalam akan kehadiran-Nya.

Tuhan Maha Pencinta, Bukan Sosok yang Mengerikan

Dalam tulisannya, Nasaruddin menegaskan bahwa Allah tidak diperkenalkan sebagai sosok yang menakutkan.

“Tetapi lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pencinta dan Maha Penyayang. Apalagi terhadap manusia yang Allah ciptakan dengan cinta,"ungkap Nasaruddin pada keterangannya, Senin (2/2/2026). 

Ia juga mengingatkan bahwa manusia ditegaskan sebagai ciptaan yang dibuat dengan “kedua tangan”-Nya.

Sebagaimana firman Allah: Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?". (Q.S. Shad/38:75).

Penegasan ini tidak disebutkan untuk makhluk lain. Seolah-olah manusia adalah ciptaan langsung (hand made) Allah SWT.

Jalaliyyah dan Jamaliyyah dalam Diri Manusia

Makna “kedua tangan Tuhan” dalam khazanah tafsir dan tasawuf dimaknai sebagai simbol kekuatan maskulin (jalaliyyah) dan kekuatan feminin (jamaliyyah). Keduanya tercermin dalam al-Asma’ al-Husna, nama-nama indah Allah.

Dalam perspektif tasawuf, al-asma’ al-husna bukan sekadar daftar sifat Tuhan, melainkan pintu masuk untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Seseorang yang pernah berbuat salah pun tidak perlu kehilangan harapan. Ia dapat membangun kembali rasa percaya diri dengan mengidentifikasi diri pada nama al-Gafur (Maha Pengampun) dan al-Tawwab (Maha Penerima Taubat).

Kasih sayang Tuhan bahkan lebih dominan. Hampir setiap surah Alquran diawali dengan Bismillah al-rahman al-rahim, yang menegaskan kemahapengasihan dan kemahapenyayangan-Nya.


Ramadan, Oase yang Melembutkan Jiwa

Ramadan secara harfiah berarti penghancur atau penghangus. 

Setelah sebelas bulan manusia berada dalam kehidupan yang keras dan penuh pertarungan (power struggle), Ramadan hadir sebagai ruang kembali ke kampung halaman rohani yang menyejukkan.

Bulan puasa diibaratkan sebagai oase spiritual bagi mereka yang menjalaninya dengan ikhlas dan sepenuh hati.

Namun di bagian akhir refleksinya, Nasaruddin mengingatkan ironi yang kerap terjadi. 

Tuhan menampilkan diri dengan kelembutan, ayat-ayat Alquran menyapa dengan santun, dan Nabi Muhammad SAW mencontohkan kesantunan.

Tetapi sebagian perilaku umat justru bertentangan dengan sifat-sifat tersebut.

Islam tidak pernah menolerir tindakan kekerasan, bukan karena alasan diplomasi, melainkan karena kekerasan tidak sejalan dengan sifat-sifat utama Tuhan sebagaimana diperkenalkan dalam al-asma' al-husna'-Nya.

Ramadan menjadi pengingat bahwa puasa bukan hanya ritual fisik. Ia adalah latihan karakter, menumbuhkan kasih, pengampunan, kelembutan, dan kedekatan dengan Tuhan.

Karena semakin dekat seorang hamba kepada Tuhannya, semakin mulia pula dirinya.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas