Menghitung Jejak Karbon Ramadhan: Saat Ibadah Bertemu Tanggung Jawab Lingkungan
Ramadhan menghadirkan denyut kehidupan yang lebih hidup di kota maupun desa melalui berbagai aktivitas ibadah dan sosial.
Editor:
Anita K Wardhani

TRIBUNNEWS.COM - Ramadhan menghadirkan denyut kehidupan yang lebih hidup di kota maupun desa melalui berbagai aktivitas ibadah dan sosial. Namun di balik semarak spiritual itu, ada jejak ekologis Ramadhan yang jarang kita sadari.
Peningkatan aktivitas selama Ramadhan tidak hanya terasa pada sisi spiritual dan sosial, tetapi juga pada pola konsumsi masyarakat. Makanan berbuka disiapkan lebih beragam, mobilitas meningkat, penggunaan listrik bertambah, dan volume sampah rumah tangga naik cukup signifikan. Aktivitas yang bagi kita terasa wajar dan rutin ini, jika dilihat secara kolektif, membentuk tekanan yang tidak kecil terhadap lingkungan.
Di titik inilah jejak karbon Ramadhan mulai terlihat. Setiap makanan yang diproduksi, diangkut, dimasak, lalu berakhir sebagai sisa, menyimpan konsumsi energi dan emisi.
Setiap perjalanan singkat berburu takjil, setiap lampu yang menyala lebih lama, dan setiap kemasan plastik sekali pakai yang dibuang turut menyumbang gas rumah kaca. Sayangnya, dampak ini sering kali luput dari perhatian karena tidak tampak secara langsung dalam keseharian kita.
Untuk membaca persoalan ini secara lebih jernih, kita perlu mengenal satu pendekatan yang masih jarang dibicarakan di ruang publik, yaitu green accounting. Secara sederhana, green accounting adalah cara pandang dalam akuntansi yang tidak hanya menghitung untung dan rugi secara ekonomi, tetapi juga memperhitungkan dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan.
Jika selama ini keberhasilan aktivitas ekonomi kerap diukur dari meningkatnya konsumsi dan perputaran uang, green accounting mengingatkan bahwa ada biaya lain yang ikut menyertainya. Kerusakan lingkungan, peningkatan emisi karbon, dan timbunan sampah merupakan bagian dari biaya tersebut, meski tidak pernah tercatat dalam struk belanja atau laporan keuangan.
Pendekatan ini menjadi relevan ketika diterapkan pada Ramadhan. Bulan yang identik dengan ibadah dan pengendalian diri justru sering diiringi dengan konsumsi berlebih. Tradisi berbuka bersama, berbagi takjil, dan menyiapkan hidangan istimewa kerap berujung pada pemborosan makanan. Padahal, setiap makanan yang terbuang berarti sumber daya alam yang telah digunakan secara sia-sia, mulai dari air, energi, hingga tenaga manusia.
Paradoks ini menunjukkan bahwa nilai kesederhanaan yang diajarkan Ramadhan belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku sehari-hari. Dalam perspektif green accounting, pemborosan bukan hanya persoalan etika, tetapi juga persoalan biaya lingkungan yang dampaknya baru terasa dalam jangka panjang.
Persoalan tersebut semakin nyata ketika kita melihat masalah sampah selama Ramadhan. Volume sampah rumah tangga meningkat, terutama sampah organik dan plastik sekali pakai. Bungkus makanan, gelas minuman, dan kemasan takjil mendominasi tempat pembuangan. Sampah makanan yang membusuk menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Sementara itu, plastik yang tidak dikelola dengan baik akan bertahan sangat lama di lingkungan.
Masalahnya bukan hanya pada jumlah sampah, tetapi juga pada cara kita memperlakukannya. Banyak sisa makanan yang sebenarnya masih bisa diolah atau dibagikan justru berakhir di tempat sampah. Dalam kacamata green accounting, kondisi ini menunjukkan adanya akumulasi biaya lingkungan yang terus bertambah, tetapi tidak pernah benar-benar kita sadari atau perhitungkan.
Selain sampah, peningkatan mobilitas selama Ramadhan juga berkontribusi pada jejak karbon. Aktivitas berburu takjil, buka puasa bersama, tarawih berjamaah, hingga persiapan mudik mendorong penggunaan kendaraan bermotor. Jalanan menjadi lebih padat, konsumsi bahan bakar meningkat, dan emisi karbon ikut naik. Di rumah dan ruang publik, penggunaan listrik pun cenderung bertambah, baik untuk penerangan maupun peralatan elektronik.
Semua ini sering dianggap sebagai bagian dari suasana Ramadhan yang meriah. Namun jika dilihat secara jangka panjang, akumulasi emisi dan limbah tersebut meninggalkan tekanan serius terhadap lingkungan. Green accounting membantu kita memahami bahwa kenyamanan dan kebiasaan sehari-hari memiliki konsekuensi ekologis yang tidak kecil.
Menariknya, perspektif ini sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam. Konsep manusia sebagai khalifah di bumi menempatkan manusia bukan sebagai pemilik mutlak alam, melainkan sebagai penjaga yang bertanggung jawab. Larangan berlebih-lebihan dan pemborosan mengajarkan bahwa kesederhanaan bukan hanya soal gaya hidup, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.
Baca tanpa iklan