Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Mengukur I’tikaf yang Berkualitas, saat Hati Terasa Tenang dan Pasrah

Salah satu hikmah Ramadan ialah hadirnya malam-malam tertentu untuk melakukan I’tikaf di masjid. 

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Mutiara Ramadan Hari ke-17

Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -     Salah satu hikmah Ramadan ialah hadirnya malam-malam tertentu untuk melakukan I’tikaf di masjid. 

Dalam tulisan di Mutiara Ramadan hari ke-17, Menteri Agama Nasaruddin Umar menngingatkan bagaimana mengukur i'tikaf yang berkualitas bisa menenangkan hati dan memunculkan kepasrahan dalam diri.

Baca juga: Amalan yang Dianjurkan saat Itikaf dan Keutamaannya di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan

I’tikaf ialah berdiam diri di mesjid untuk melakukan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Swt. Orang yang melakukan I’tikaf disebut mu’takif, jamaknya muktakifin. 

Seorang mu’takif. I’tikaf ada Syarat dan ketentuanjnya. Selama menjalankan i’tikaf tidak dibenarkan berhubungan suami-isteri, keluar masuk masjid tanpa keperluan, dan dianjurkan menutup aurat serta memperbanyak amalan ibadah seperti dzikir, wirid, tafakkur, tadzakkur, di samping shalat dan membaca ayat suci Alquran. 

Rangkaian i’tikaf harus diawali dengan niat. I’tikaf bisa beberapa hari, khususnya pada 10 hari terakhir bulan Ramadlan dan bisa juga beberapa saat.

Baca juga: Panduan Itikaf di Bulan Ramadan: Pengertian, Niat, dan Tata Caranya

Rekomendasi Untuk Anda

Inti i’tikaf sesungguhnya ialah ibadah rohani, yaitu dengan melakukan muhasabah atau mujahadah. 

Sebagian ulama berpendapat kalau saja orang bisa melakukan muhasabah dengan dengan baik maka sesungguhnya lebih baik baginya dari pada shalat sunat. Muhasabah bisa diisi dengan dzikir dan wirid atau tafakkur dan tadzakkur.

Zikir dan wirid sesungguhnya sama, hanya bedanya dzikir menyebut dan mengingat nama-nama Allah secara umum tanpa ketentuan; sedangkan wirid ialah zikir yang sudah diatur jumlah dan ketentuannya secara rutin. Tafakkur sudah tidak ada lagi bacaan dan hitungan. 

Yang ada ialah mengingat dan merenung masa lampau kita yang kelam lalu memohonkan ampun kepada Allah SWT. 

Sedangkan tadzakkur, sudah tidak ada lagi ingatan yang aktif. Yang ada hanyalah ketenangan, kebisuan, dan kepasrahan. Tadzakkur ketika oaring sedang berada pada puncak kekhusyukan, sehingga ia seolah-olah tidak menyadari diri kalau ia sesungguhnya berada pada tingkat kesadaran paling tinggi, tingkatan kesadaran para auliya dan para Nabi.

I’tikaf mempunyai beberapa tingkatan. I’tikafnya orang awam ialah datang ke masjid melakukan rangkaian ibadah formal seperti shalat lail, tahajjud, witir, mengaji atau tadarrusan, sesekali diisi oleh pengajian. 

I’tikaf orang khawas lebih dari sekedar itu; bukan mengejar target-target kuantitas misalnya banyaknya rakaat shalat yang harus dilakukan, banyaknya juz Al-Qur’an yang dibaca, dan hebatnya penceramah yang ia dengar. 

Yang penting bagi khawashul Mu’takifin ialah kualitas mujahadah yang dapat diraih. Kalau perlu yang bersangkutan menembus tingkatan mukasyafah yaitu membuka hijab atau tabir yang selama ini menghalangi.


I’tikaf bisa mengantarkan seseorang kepada tingkat kesadaran yang lebih tinggi sehingga kemabruran Ramadhan terpancar selalu di wajag orang ini seusai Ramadan. I’tikaf betul-betul menjadi momentum untuk menggunting dosa-dosa langganannya sehingga ia tampil beda seusai kembali ke hari Idul Fitri. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas