Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kekuatan Doa Ramadan Mendekatkan Jarak antara Tuhan dan HambaNYA 

Jarak antara Tuhan dan hamba-Nya di bulan Ramadan lebih dekat, sehingga tidak heran jika doa di bulan Ramadan lebih maqbul daripada di luarnya. 

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Kekuatan Doa Ramadan Mendekatkan Jarak antara Tuhan dan HambaNYA 
Freepik
KEKUATAN DOA RAMADAN - Jarak antara Tuhan dan hamba-Nya di bulan Ramadan lebih dekat, sehingga tidak heran jika doa di bulan Ramadan lebih maqbul daripada di luarnya.  

Mutiara Ramadan 

Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar

TRIBUNNEWS.COM - Jarak antara Tuhan dan hamba-Nya di bulan Ramadan lebih dekat, sehingga tidak heran jika doa di bulan Ramadan lebih maqbul daripada di luarnya. 

Doa itu sendiri merupakan puncak ibadah, seperti dikatakan Nabi dalam hadisnya: Al-Du’a’ mukhul ‘ibadah (Doa adalah jantung ibadah). 

Baca juga: Doa Ramadan Hari ke-29, Memohon Dibersihkan dari Penyakit Hati

Harapan kita kepada doa, selain untuk memperoleh harapan dari Allah SWT juga sekaligus sebagia ibadah. Doa adalah bukti dan sekaligus pernyataan kelemahan diri kita kepada-Nya. 

Orang yang malas berdoa menunjukkan keangkuhannya sebagai hamba, seolah-olah ia tidak membutuhkan bantuan Tuhan. Orang yang arif selalu berdoa, meskipun tujuan utamanya bukan  apa yang didoakan tetapi sebagai wujud ketergantungan dirinya kepada Tuhannya.

Seorang arif berdoa lebih banyak menyatakan munajat ketimbang permohonannya. Munajat ialah pernyataan kelemahan diri di hadapan Tuhannya Mang Maha Agung dan Maha Sempurna. 

Rekomendasi Untuk Anda

Ia selalu merasa malu berdoa untuk hal-hal yang bersifat kebutuhan biologis. Ia juga selalu khawatir jangan sampai doanya didekte oleh hawa nafsu. 

Unsur terpenting di dalam doanya ialah permohonan agar Tuhan mau menerima kehaditan dirinya dan mau “merangkul” dirinya. Itulah sebabnya, panjang doa para arifin sesungguhnya bukan doa tetapi munajat, yaitu pengagungan Diri Tuhan dan penhinaan dirinya sebagai hamba.

Ia sangat berhati-hati jika doanya makbul, karena boleh jadi sebuah doa diterima tetapi berarti penolakan dirinya terhadap-Nya. Sebaliknya ia lega jika doanya ditolak karena boleh jadi penolakan doa berarti penerimaan dirinya kepada Tuhannya. 

Maksudnya, mengkin Tuhan mengabulkan doa kita tetapi kita dibiarkan hanyut sendiri bersama hasil doa yangdiberikan Tuhan kepada kita. Akhirnya kita berjarak dan semakin jauh dengan Tuhan.Persis tukang minta-minta di depan pintu yang tidak akan pergi sebelum diberi dan akhirnya terpaksa diberi dengan harapan ia cepat pergi. Ini jenis pemberian tanpa diiringi dengan cinta.

Boleh jadi penolakan doa berarti penerimaan diri kita kepada-Nya. Artinya Tuhan Maha Tahu apa yang didoakan itu bermanfaat atau tidak bagi kita. Jika Allah Sang maha Pencinta dan Maha tahu menganganggap jenis permohonan kita justru akan membahayakan kita, terutama menjauhkan kita dengan-Nya, maka Tuhan mengenyampingkan materi doa kita. 

Persis sebagai seorang anak kecil yang meminta mainan berupa gelas kaca atau pisau kepada ibunya. Penolakan permintaan itu bukan berarti tidak cinta tetapi sebaliknya karena sang ibu mencintai anaknya. 

Kita tidak boleh salah faham terhadap Tuhan dengan penolakan doa kita. Kita juga tidak boleh berpuas diri dengan pengabulan doa kita. Boleh jadi rezki Allah turunkan ke bumi bersama kita tetapi kita tidak lagi pernah naik ke atas bersama-Nya. 

Sebaliknya penolakan doa bisa berarti Tuhan ingin mengangkat diri kita ke hadirat-Nya dan sekaligus memperlihatkan betapa banyak yang jauh lebih indah dan lebih baik di sana yang tidak pernah kita minta. Sehingga, sebanyak dan sebesar apapun  permohonan kita jauh lebih indah dengan kenyataan yang ada di sana.

Orang yang sudah naik ke atas tidak perlu lagi rezki dan anugrah lainnya. Seolah-olah ia melihat alangkah kecilnya pemohonan manusia disbanding dengan sesuatu yang diperoleh di sana. Bahkan ia berkata: “Ambil saja syurga itu. Aku tidak memerlukan syurga itu karena aku sudah bersama dengan Sang Pencipta syirga”. Seolah-olah syurga dan neraka menjadi urusan orang awam. Sedangkan orang-orang yang khawas sudah melewati kebutuhan tahapan itu. 

 

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas