Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Senjakala Kesenian Tayub Tuban

Nasib kesenian Tayub di Kabupaten Tuban, tak berbeda jauh dengan kesenian tradisional lain, hidup ngos-ngosan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Senjakala Kesenian Tayub Tuban
surya/adrianus adhi
Sekitar 60 wanita diwisuda menjadi waranggono di Pemandian air Bektiharjo, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Rabu (11/9/2013). 

Menurut Haryadi sudah ada dua kesenian yang punah di Tuban.

Pertama, adalah Gendak, yaitu seni yang menggabungkan tari, musik dan teater ini sudah tak ada lagi penerusnya.

Berikutnya adalah kentrung. Seni bernyanyi dengan tabuhan ketipung, gendang dan sitar ini sudah hilang.

"Padahal ini salah satu seni tradisional asli Tuban," lanjut Haryadi.

Kelompok kentrung di Tuban sendiri kini tinggal menyisakan Mbah Surati.

Dulunya kelompok ini berjumlah tiga orang, namun karena usia satu persatu anggotanya meninggal tanpa pewaris.

Seni ini sudah di ujung tanduk. Usia Mbah Surati yang sudah menginjak 94 tahun juga tak meninggalkan penerus.

Rekomendasi Untuk Anda

Saat Surya mengunjungi rumahnya beberapa waktu lalu, kondisinya sudah sangat memprihatinkan.

Ia tinggal sebatang kara di gubuk reotnya di Desa Bate, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban.

Gubuk ini ia beli dari hasil jerih payahnya ngentrung saat muda. (dri/idl/ab)

Sumber: Surya
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas