Pemilih Pemula Lebih Memilih Fokus Pada Ujian Nasional
pemilih pemula yang rata-rata masih duduk di bangku SMA
Editor:
Sugiyarto
Frizka mengungkapkan jika ia tidak begitu mengikuti perkembangan politik di daerah asalnya. Selain karena disibukkan dengan jadwal kuliah, akses untuk mengenal para caleg tidak banyak. Menurutnya, kalau hanya dengan broswing di internet atau melihat media tidak bisa dijadikan sebagai acuan.
“Kebanyakan yang obral janji, soalnya,” ucap gadis pecinta lagu Afgan Syahreza itu. Meski memilih golput, Frizka tetap berharap wakil rakyat yang akan terpilih nanti, di Banyuwangi khususnya, adalah orang yang jujur dan berkepribadian baik. Ia mendambakan seorang anggota dewan yang dapat memberikan perubahan positif di kampung halamannya. “Mudah-mudahanlah bisa merubah Banyuwangi jadi lebih baik,” Tuturnya.
Soal jual-beli suara, gadis yang aktif dalam anggota himpunan mahasiswa jurusan ini mengaku sangat prihatin. Andai ada yang membayar agar ia mau pulang kampung dan memintanya memilih seorang caleg, ia tetap tidak akan berangkat. “Itu korupsi namanya,” tegasnya.
Tentang keberadaan poster caleg yang memenuhi tiap sudut Kota Surabaya, Frizka merasa tidak begitu terganggu. Hanya saja, ia menyayangkan pemasangan poster yang merusak alam.
“Ada yang ditempelin di pohon-pohon, dipaku. Itu kan merusak namanya. Kalau masangnya bener ya nggak masalah,” ucap Putri Lingkungan Hidup Kabupaten Banyuwangi 2010 ini.
Untuk pemilihan presiden mendatang, Frizka ingin ikut berpartisipasi dengan menyumbangkan suara. Meski mengaku belum punya pandangan tentang siapa calon yang akan dipilih, ia merasa perlu ambil bagian dalam menentukan masa depan negara.
“Saya ingin melihat perubahan di negeri ini. Ingin milih pemimpin yang bisa menyelesaikan kasus-kasus itu,” tutur Frizka mengingat kasus korupsi yang sedang marak di Indonesia. (musahadah/aflahul abidin)