Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Perang Pandan Desa Tenganan, Wujud Ngayah kepada Desa dan Leluhur

"Makanya kalau zaman dulu ikut Perang Pandan, harus sampai mengeluarkan darah. Soalnya darah yang keluar itu digunakan untuk pewarna kain Geringsingan

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Perang Pandan Desa Tenganan, Wujud Ngayah kepada Desa dan Leluhur
Tribun Bali/Saiful Rohim
Ribuan orang memadati balai banjar Desa Tenganan Dauh Tukad, Manggis, Karangasem, Selasa(15/7/2014). Mereka begitu antusias menyaksikan tradisi Mekare-Karean (Perang Pandan). 

"Makanya kalau zaman dulu ikut Perang Pandan, harus sampai mengeluarkan darah. Soalnya darah yang keluar itu digunakan untuk pewarna kain Geringsingan,”tambah Ardana.

“Jadi tradisi Mekare-karean ini betul-betul kita persembahkan kepada Dewa Indra serta kepada para leluhur kita yang telah memberikan segalanya kepada kampung ini,” imbuh Ardana, yang menggunakan pakaian adat Bali.

Ardana coba menjelaskan makna tradisi Perang Pandan di era ini. Darah yang keluar dari badan peserta tidak lagi dipakai membuat kain Geringsingan, karena sudah ada pewarna.

”Jadi darah yang keluar dari badan peserta Perang Pandan saat ini ditujukan kepada para Dewa, serta leluhur kita. Karenanya dalam Perang Pandan ini tetap dianjurkan menggeret lawan dengan duri Pandan hingga mengeluarkan darah,” kata Ardana.(saiful rohim)

Rekomendasi Untuk Anda
Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas