Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Wahai Presiden Baru, Tolong Pulangkan Aku

“Harapan kami tidak muluk-muluk. Kami ingin menjadi warga negara normal. Bisa kembali hidup bersama di rumah dan kampung kami sendiri,” tutur Ustad I

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Wahai Presiden Baru, Tolong Pulangkan Aku
surya/ahmad zaimul haq
Anak-anak pengungsi Syiah bermain usai belajar menggambar tempat penampungan baru di rumah susun komplek Puspa Agro, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (2/7/2013). 

TRIBUNNEWS.COM, SIDOARJO - Komisi Pemilihan Umum (KPU), hari ini akan mengumumkan pemenang kursi presiden ketujuh Republik Indonesia.

Belum final memang. Sebab untuk menduduki kursi itu masih perlu menunggu proses hingga sang pemenang benar-benar mengucapkan sumpah jabatan di depan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Meski begitu masyarakat sudah menaruh harapan besar. Terutama masyarakat yang terusir seperti warga Syiah asal Sampang.

Juga masyarakat korban semburan Lumpur Lapindo, yang hak-haknya belum terbayar hingga bertahun-tahun.

Mereka berharap presiden baru bisa menjadi seorang Ratu Adil.

Mereka merindukan lahirnya kebijakan sekaligus kebijaksanaan yang bisa menjamin hak-hak mereka.

“Harapan kami tidak muluk-muluk. Kami ingin menjadi warga negara normal. Bisa kembali hidup bersama di rumah dan kampung kami sendiri,” tutur Ustad  Iklil Al-Milal, warga Syiah saat ditemui di pengungsian, Rumah Susun (Rusun) Pasar Puspa Agro Jemundo, Sidoarjo, Senin (21/7/2014).

Rekomendasi Untuk Anda

Di rumah penampungan itu, Iklil hidup bersama sekitar 300 warga Syiah lainnya.

Mereka terpaksa meninggalkan kampung halaman di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben.  

Seingat Iklil, mereka sudah dua tahun hidup serba terbatas di pengungsian Jemundo. Tepatnya sejak Agustus 2012.

Status sebagai pengungsi sudah mereka sandang jauh sebelum boyongan ke Sidoarjo.

Tempat pertama mereka berlindung setelah kampung mereka diserang kelompok lain adalah  GOR Sampang.

Selama delapan bulan mereka hidup di penampungan yang disediakan pemerintah setempat.

Namun pengungsian di tanah kelahiran mereka ini, ternyata aparatur negara tidak bisa menjamin.

Alih-alih menjamin mereka balik ke kampung halaman, menjamin  keselamatan di pengungsian saja sulit mereka wujudkan.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas