Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kemarau Panjang, Petani Cabe di Mojokerto Menjerit

"Kami hanya mengandalkan air tadah hujan. Begitu juga waduk kampung juga bergantung hujan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Kemarau Panjang, Petani Cabe di Mojokerto Menjerit
TRIBUNNEWS.COM/ AGUNG BUDI SANTOSO
Nur Yasin sedang memetik cabe yang subur dari hasil pertanian organik di kebunnya. 

TRIBUNNEWS.COM,MOJOKERTO - Puluhan petani di Desa Pucuk, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto,Jawa Timur kian merindukan datangnya hujan.
Mereka saat ini mengeluhkan kekurangan air yang sangat dibutuhkan tanaman di sawah dan ladang mereka.

Jika tak segera turun hujan, dipastikan mereka akan gagal panen.

Kekhawatiran itu disampaikan Sunarto, salah satu petani cabe.

"Kami hanya mengandalkan air tadah hujan. Begitu juga waduk kampung juga bergantung hujan. Sejauh ini tanaman cabe kami tetap di tempat ndeder (persemaian). Tidak bisa dipindah di ladang karena tak ada hujan," kata Sunarto, Kamis (11/9/2014).

Sebagian dari petani ada yang memilih mencari solusi berbiaya tinggi, menggunakan pompa air dengan mesien diesel.

Sebenarnya waduk di kampung itu bisa dimanfaatkan tapi terbatas dan tidak boleh disedot dengan mesin.

Cukup manual. Seperti yang dilakukan Sunarto dengan mengambil air dari waduk dengan timba.

Rekomendasi Untuk Anda

Rata-rata usia bibit cabe di petani sekitar satu bulanan.

Mereka akan membiarkan bibit tersebut di persemaian.
Dengan kreativitas petani, ada yang membuat belik atau sumur gali dengan kedalaman tertentu.

"Saya punya sawah sekitar 1/4 hektare. Kami memilih bibit sendiri karena lebih murah. Jika beli bibit bisa sampai  Rp 1 juta. Mudah-mudahan hujan segera turun," kata Sunarto.

Sumber: Surya
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas