Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Kisah Seorang Penjagal yang Tidak Mempan Lagi dengan Tendangan Sapi

Pria kelahiran 12 oktober 1975 ini, mengaku enjoy menjalankan pekerjaan yang dilakoninya mulai tahun 1993 sampai sekarang.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Kisah Seorang Penjagal yang Tidak Mempan Lagi dengan Tendangan Sapi
saldy/tribun-timur.com
Daeng Tiro 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Saldy

TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Menjadi seorang penjagal atau penyembeli sapi adalah kebanggan  tersendiri bagi Alim Daeng (dg) Tiro.

Pria kelahiran 12 oktober 1975 ini, mengaku enjoy menjalankan pekerjaan yang dilakoninya mulai tahun 1993 sampai sekarang.

Lelaki yang akrab  disapa  Daeng Tiro ini mengungkapkan bahwa menjadi penjagal itu tidak mudah karena harus mempertaruhkan nyawa setiap menyembelih hewan.

Pasalnya, beberapa rekannya sesama penjagal sapi dikawasan Rumah Pemotongan Hewan RPH Tamangapa Makassar yang berlokasi di  Kampung Pammolongang sudah banyak meninggal dunia akibat ditendang sapi yang hendak dipotong.

"Alhamdulilah saya masih hidup ji, padahal kalau dipikir tendangan sapi yang mau saya sembelih tidak bisa mi lagi dihitung," ujarnya sembari tertawa sambil menggelengkan kepala.

Rupanya menjadi penjagal, ini ialah warisan dari buyut Dg. Tiro sendiri, dimana  mulai dari kakek, bapak, dan semua pamannya adalah seorang penjagal hewan.

Rekomendasi Untuk Anda

Hal ini karena keluarga besar berdomisili di sekitar kawasan RPH di Tamangapa Kecamatan Manggala. Ia juga mengaku sejak kecil sudah ada di RPH, ikut menemani kakenya melihat langsung proses penyembelian hewan tersebut.

Keseharian seorang penjagal RPH Tamangapa, dituntut datang ke RPH menyembeli hewan. Penyembelihan dimulai sejak pukul 01.00 wita dini hari, hingga 06.00 wita pagi.

Dg. Tiro mengatakan setiap hari sapi yang ia sembeli tidak menentu nominalnya, namun ia mengestimasi paling banyak ia sembeli itu sekitar 20 ekor per hari dan paling sedikit 10 ekor perhari dengan upah sebesar Rp 2 jutaan per bulan.

"Kalau saya kalkulasikan, dalam sebulan sekitar dua jutaan gajiku," tambahnya.

Namun biasanya menjelang moment Hari Raya Idul Adha beberapa warga sekitar rumahnya sering memanggilnya untuk menyembeli hewan qurban.

"Kalau diminta untuk penyembeli hewan qurban, saya lakukan semata-mata ibadah, saya tidak tuntut upah disini," kata Dg Tiro.

Didalam penyembelian sapi beberapa hal-hal yang masih menjadi ketegangan bagi dg.

Tiro saat melaksanakan aksinya itu.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas