Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

Anak Saya Bukan Penjahat tapi Disiksa

"Anak saya bukan residivis, bukan penjahat, tapi disiksa sampai seperti itu," ujar Kustinah, saat ditemui di tempatnya bekerja, di Bakalan Krapyak, Ka

zoom-in Anak Saya Bukan Penjahat tapi Disiksa
tribunjateng/yayan isro roziki
Kusminah ibunda Kuswanto korban salah tangkap yang sudah terlanjur disiksa ternyata bukan penjahat. Kini Kuswanti mengadu ke Komnas HAM 

"Waktu itu sudah saya larang, tapi dia bilang anak-anak kangen mbahnya, akhirnya mereka tetap berangkat," cerita dia.

Selanjutnya, pada tengah malam, seorang anggota polisi teman Kuswanto telepon Kustinah, menanyakan keberadaan anaknya itu.
"Polisi itu bilang bisa gak Kuswanto diminta pulang. Karena rumah mertuanya Kuswanto di pelosok, ya ndak bisa," ucapnya.

Malam saat polisi tersebut telepon menanyakan keberadaan Kuswanto, adalah malam di mana terjadi peristiwa perampokan toko penjualan es krim Walls di Kudus.

Beberapa hari kemudian, seusai Kuswanto kembali ke Kudus, ia mendapat SMS dari nomor tak dikenal, yang meminta ia jangan keluar rumah dan pergi jauh-jauh saja.

Lantaran tak merasa ada masalah, Kuswanto enggan menanggapi SMS itu.

"Lalu pada 21 November 2012, sore hari Kuswanto keluar dari rumah, pamit mau ketemu teman, tapi sampai dua hari kemudian ndak pulang," ucapnya.

Dua hari tak pulang, Kustinah pun mencari keberadaan Kuswanto. Ia mendapat informasi bahwa anaknya itu ditangkap polisi.
"Saya ke Polres, tanya, tapi jawabnya ndak ada penangkapan. Sehari kemudian, saya mendapat kabar dari tetangga melihat Kuswanto dirawat di RSUD Kudus," kata dia.

BERITA TERKAIT

Ia pun bersama keluarga langsung mendatangi rumah sakit, di sana ia mendapati Kuswanto dalam kondisi mengenaskan.

Separuh badan dan kedua tangannya mengalami luka bakar cukup parah.

"Kamar Kuswanto dijaga belasan polisi, awalnya saya nggak boleh masuk, tapi saya nekat. Pertama kali lihat kondisi Kuswanto, saya syok dan langsung menangis sejadi-jadinya. Sampai sekarang pun saya masih syok, memikirkan kondisi anak saya," tuturnya, berurai air mata.

Dikatakan, selain masih sakit-sakitan, Kuswanto tak lagi mampu bekerja. Sehingga ekonomi keluarganya morat-marit.

"Harta benda saya pun ikut ludes terjual, membiayai pengobatannya," ucap dia.

Diakui, usai kejadian itu, ada tiga polisi datang memberi ganti rugi dan biaya pengobatan sebesar Rp 30 juta.

Namun, meski sudah menerima uang pengganti tak seberapa itu, ia justru mengaku tak tenang.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2024 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas