Heboh Kuburan Si Pitung Ditemukan di Palembang
Artikel di blog internet chirpstory mengklaim telah menemukan kuburan Si Pitung, legenda masyarakat Betawi, berada di Palembang
Editor:
Anita K Wardhani
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Sebuah artikel di blog internet chirpstory mengklaim telah menemukan kuburan Si Pitung, legenda masyarakat Betawi, berada di pemakaman Puncak Sekuning, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang.
Artikel berjudul "Makam Tokoh Betawi, PITUNG ditemukan di Palembang!!!...Alhamdulillah", telah membuat heboh. Artikel dilengkapi foto makam.
Banyak netizen yang tidak percaya, tetapi ada juga yang percaya setelah membaca penjelasan penulis di blog itu.
Disebutkan, Si Pitung bukanlah seseorang yang memiliki kemampuan bela diri dan melawan penjajah yang selama ini dikenal masyarakat luas .
Versi blog tersebut, Pitung merupakan sebuah organisasi perlawanan rakyat terhadap pemerintahan Kolonial Belanda. Singkatan Pitung yakni Pituan Pitulung, yang bermakna tujuh orang penolong.
Nama ke-7 Pendekar itu adalah :
1. Ratu Bagus Muhammad Ali Nitikusuma (GUGUR TERTEMBAK)
2. Ratu Bagus Roji’ih Nitikusuma (GUGUR TERTEMBAK)
3. Ratu Bagus Rais Sonhaji Nitikusuma
4. Hasan
5. Saman (nama Panggilan)
6. Jebul (nama samaran)
7. Abdullah (Dulo)
Penulis mengambil sumber dari Pitung dari Kemanggisan/Kemandoran
Keberadaan organisasi PITUNG ini, tentu sangat menghawatirkan Belanda, dengan segala upaya mereka berusaha memadamkan perlawanan masyarakat Betawi.
Dua orang dedengkot PITUNG, Muhammad Ali dan Roji’ih, berhasil mereka bunuh, namun PITUNG ternyata tidak bubar, bahkan pada tahun 1893 muncul Anggota Pitung yang tidak kalah menakutkan mereka, yaitu Kyai Haji Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma
Pada 1914, Ahmad Syar’i bersama 2 rekan seperjuangan, membentuk organisasi perlawanan yang bernama “KI DALANG”. Pada masa itu, dikenal 3 (tiga) orang pemimpin yaitu:
a. KI SAMA’UN , yang berpusat di Teluk Naga Kampung Melayu Tangerang (kini masuk wilayah Provinsi Banten)
b. KI SYAR’IE (KH AHMAD SYAR”IE MERTAKUSUMA), berpusat di Bambu Larangan Cengkareng Jakarta Barat.
c. KI ABDUL KARIM DAIM, berpusat di Kampung Duri Gang Jamblang.
Perlawanan “KI DALANG” ini berakhir pada tahun 1924, yang ditandai dengan terbunuhnya Ki Sama’un, serta tertangkapnya Ki Syar’ie, Ki Abdul Karim Da’im bersama pemimpin lainnya.
Tidak beberapa lama ditahan, Ki Syar’ie berhasil kabur, namun beliau tertangkap di Kota Bandung, dan dijatuhi hukuman gantung oleh Pemerintah Kolonial Belanda waktu itu. Tetapi belum sempat dihukum, Ki Sya’ie untuk kedua kalinya berhasil melarikan diri.