Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Muasal Nama Kampung Gunung Anyar di Surabaya

Nama kampung, kelurahan dan kecamatan Gunung Anyar, yang berarti ‘gunung baru’, tidak lepas dari sebuah legenda.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Y Gustaman
zoom-in Muasal Nama Kampung Gunung Anyar di Surabaya
Surya/Ahmad Zaimul Haq
Dari sinilah sejarah lahirnya Kampung Gunung Anyar Surabaya yang nama kampungnya diambil dari gundukan tanah yang aktif menyemburkan lumpur di kampung itu, dan berusia ratusan tahun. 

“Gunung Anyar ini tidak bisa setinggi Gunung Semeru karena ada mbok rondo (janda tua) yang nggedrugno wakul (memukulkan tempat nasi) ke tanah secara berulang-ulang,” tambah Aminudin, warga Gunung Anyar Tengah lainnya yang mengaku lahir dan besar di kampung ini.

Sehingga dari dulu hingga sekarang, Gunung Anyar itu tidak dapat tinggi seperti halnya gunung aktif lainnya.

Kondisi saat ini luberan lumpur yang menyembur ke permukaan dari Gunung Anyar itu berupa lumpur asin dan mengandung minyak.

Warnanya hitam pekat, bahkan salah satu titik mengeluarkan cairan seperti minyak. Arah semburan dan melubernya lumpur Gunung Anyar ini juga memunculkan mitos di kalangan warga.

Jika luberan lumpur banyak yang mengarah ke barat, maka pertanda hasil panen tidak baik. Namun, bila luberan lumpur itu banyak yang mengarah ke timur, maka itu pertanda hasil panen akan baik.

"Kalau misalnya di tempat ini dibangun bagus, tentu bisa menjadi tempat tujuan wisata bagi orang luar kampung. Dibuat taman atau apa, bisa saja," ungkap keduanya.

Selain tanah gunung, di kampung ini ada sekolah Al-Islah.

Rekomendasi Untuk Anda

Di sekolah inilah, Mohammad Nuh, mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember 1945 (ITS) Surabaya dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) era kabinet Indonesia Bersatu II, serta Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkoinfo) kabinet Indonesia Bersatu I kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudoyono, menyelesaikan sekolah dasarnya.

"Beliau juga lahir di kampung Gunung Anyar Tengah ini. Tempat tinggalnya di depan YPI (Yayasan Pendidikan Islam) Al Islah," cerita Kemas.

Dari buku yang ditulis Mohammad Nuh berjudul "Menyemai Kreator Peradaban, Renungan tentang Pendidikan, Agama dan Budaya", Pak Nuh, sapaan akrabnya, mengakui, dirinya lahir dan besar di kampung Gunung Anyar.

Di kampung yang dikenal religius inilah, dia mengaku, mendapat budaya dan belajar dasar agama yang kuat.

Orangtuanya, almarhum H Muchammad Nabhani adalah seorang petani, dan ibunya, Hj Munziyati, ibu rumah tangga, sekaligus usaha peracangan di kampung itu.

Lurah Gunung Anyar, Annita Hapsari menambahkan, di kampung ini, masih banyak warga yang punya sawah.

"Jadi lahan yang akan dipakai pembangunan MERR nanti ada yang masih sawah. Hal ini menunjukkan daerah ini merupakan kampung bersejarah kota Surabaya," tambah Annita.

Baik Kemas, Aminudin dan Annita, berharap dengan adanya jalan MERR, budaya lokal dan sejarah kampung Gunung Anyar bisa tetap terjaga.

Sumber: Surya
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas