Biaya Ambulans dan Peti Jenazah Harus Ditebus Keluarga Korban Banjir Bandang
Mulya Purba mengaku dipungut biaya ambulans dan peti jenazah sebesar Rp 1,3 juta untuk membawa jenazah adik iparnya, Ahmad Al Hakim Lubis.
Penulis: Array Anarcho
Editor: Y Gustaman

Laporan Wartawan Tribun Medan, Array A Argus
TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Mulya Purba mengaku dipungut biaya ambulans dan peti jenazah sebesar Rp 1,3 juta untuk membawa jenazah adik iparnya, Ahmad Al Hakim Lubis.
Ahmad satu dari sekian korban meninggal dunia musibah banjir bandang di air terjun Dua Warna, Sibolangit, Deliserdang, Sumatera Utara akhir pekan lalu.
"Rencana, jenazah adik ipar saya ini akan dibawa ke kampung halaman di Sibuhuan, Padang Lawas. Untuk membawa jenazah perlu ambulans," ungkap Mulya di depan IGD Rumah Sakit Bhayangkara Medan, Selasa (17/5/2016) siang.
Pihak keluarga diminta menyerahkan uang Rp 1,3 juta untuk biaya ambulans dan peti jenazah ke Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Flora, tempat almarhum Hakim menimba ilmu.
"Katanya ambulans itu bantuan. Jadi, uang itu harus kami serahkan ke pihak kampus," ungkap Mulya.
Terpisah, dosen STIKES Flora, Minarlin, menerangkan bahwa uang itu bukan untuk pihak kampus, tapi membayar jasa sopir dan bensinn selama perjalanan.
"Kalau uang peti kami serahkan ke rumah sakit. Ambulans ini memang bantuan dari Dinas Kesehatan Provinsi. Tapi kita harus kasih uang jalan sama sopirnya," ungkap Minarlin.