Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Seminar di UGM: Indonesia Butuh Rekonsiliasi

“Yang paling utama adalah, rekonsiliasi hanya bisa dilakukan ketika kedua belah pihak memiliki sikap saling memaafkan."

Seminar di UGM: Indonesia Butuh Rekonsiliasi
IST
Berfoto bersama para pembicara seminar Hari Kebangkitan Nasional dengan thema “Rekonsiliasi Itu Ada Di Hati Bangsa Ini” dari kiri – kanan: Clemon “Emo” Lilik HS – moderator, Lambang Trijono Drs, MA, Ph.D (cand) - Kepala SOREC Universitas Gadjah Mada, Letjen TNI (Pur) mantan Wakasad dan Ketua Jati Diri Bangsa, AM Putut Prabantoro - Ketua Gerakan Ekayastra Unmada – Semangat Satu Bangsa dan DR Miftahul Munir - Dosen ISI Yogyakarta & Pengasuh PONPES Mambaul Ulum Sumenep, di Gedung Pasca Sarjana FISIPOL – Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jumat sore (20/5/2016). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rekonsiliasi sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia karena adanya peristiwa kelam di masa lalu yang tidak terselesaikan.

Dengan rekonsiliasi itu, diharapkan bangsa Indonesia meninggalkan luka batin dalam perjalanan sejarahnya dan agar mampu berjalan ke depan.

Rekonsiliasi hanya bisa dilakukan jika seluruh anak bangsa mampu saling memaafkan.

Demikian ditegaskan mantan Wakasad dan Ketua Jati Diri Bangsa, Letjen TNI (Pur) Kiki Syahnakari dalam seminar Kebangkitan Nasional “Rekonsiliasi Itu Ada Dalam Hati Bangsa Ini” yang diadakan di Gedung Pasca Sarjana Fisipol, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jumat (20/5/2016) lalu.

Melalui rilis yang masuk ke redaksi Tribunnews.com, kegiatan ini merupakan kerjasama antara Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), Pusat Riset Sosial (SOREC) Departemen Sosiologi, Fisipol, UGM dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Selain Kiki Syahnakri, seminar tersebut menghadirkan Dosen ISI Yogyakarta & Pengasuh PONPES Mambaul Ulum Sumenep DR Miftahul Munir, Kepala SOREC UGM Lambang Trijono Drs MA PhD (cand), Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta DR G Sri Nurhartanto SH dan dipandu oleh Clemon “Emo” Lilik HS (Wartawan).

Menurut Kiki Syahnakari, dalam suatu peristiwa kelam selalu ada kejadian pendahuluan dan peristiwa susulan yang merupakan respon dari kejadian sebelumnya.

Sehingga ada dua peristiwa yang selalu harus dilihat secara utuh dan tidak terpisahkan dalam seluruh konteks peristiwa kelam tersebut.

Kiki menunjuk, kasus Kanigoro merupakan kasus yang mengawali terjadinya peristiwa Oktober 1965.

“Yang paling utama adalah, rekonsiliasi hanya bisa dilakukan ketika kedua belah pihak memiliki sikap saling memaafkan."

"Karena kalau dilihat dari konteks kejadian pendahuluan dan susulan sebagai respon kejadian sebelumnya, pertanyaan siapa yang bertanggung jawab dalam konteks peristiwa kelam tersebut kemudian menjadi perdebatan, apalagi kemudian pemerintah atau negara pada waktu dipertanyakan kehadirannya dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi,” ujar Kiki.

Ditegaskan Kiki, rekonsiliasi selalu terkait dengan masa depan bangsa ini.

Oleh karena itu, rekonsiliasi harus menghapus peristiwa lalu yang kelam dengan cara saling memaafkan segala kesalahan siapapun agar Indonesia dapat berjalan ke masa depan dengan lebih baik.

Dari kacamata Lambang Trijono, peristiwa Oktober 1965 memiliki multi dimensi, ada persoalan pemberontakan PKI, ada urusan kudeta dan ada urusan sosial.

Jika menunjuk pada peristiwa Oktober 1965, harus lebih jelas yang dimaksud denga peristiwa tersebut.

“Konflik siapa dengan siapa, yang dimaksud dengan peristiwa Oktober 1965, karena ada berbagai multi dimensi dalam peristiwa tersebut."

"Yang menjadi pertanyaan kemudian, jika diadakan, rekonsiliasi yang dilakukan untuk peristiwa apa, konflik antar siapa ? Dalam konteks ini pula, jika ada tuntutan permintaan maaf, siapa yang harus meminta maaf dan kepada siapa permintaan maaf itu ditujukan?” ujar Lambang Trijono.

Oleh karena itu, permintaan maaf seluruh peristiwa kelam yang terjadi di Indonesia harus ditujukan kepada para bapa pendiri negara (founding fathers).

Halaman
12
Editor: Robertus Rimawan
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas