Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Gadis 16 Tahun Sudah Jadi Mucikari, Tawarkan Temannya Sendiri

Ironisnya, bukan saja sebagai korban tapi mereka justru menjadi pelaku kejahatan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Wahid Nurdin
zoom-in Gadis 16 Tahun Sudah Jadi Mucikari, Tawarkan Temannya Sendiri
TRIBUNJAMBI/RIAN AIDILFI
Tersangka mucikari prostitusi di bawah umur ditangkap polisi 

Laporan wartawan Tribun Jambi, Rian Aidilfi

TRIBUNNEWS.COM, JAMBI - Kasus kriminalitas yang melibatkan anak-anak di Provinsi Jambi semakin mengkhawatirkan.

Ironisnya, bukan saja sebagai korban tapi mereka justru menjadi pelaku kejahatan.

Berdasarkan data dari Subdit IV PPA Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jambi tercatat ada 16 kasus kriminalitas anak yang masuk sejak Januari hingga saat ini.

Padahal tahun lalu, hanya ada 15 kasus tindak kriminal anak.

Yang tak kalah membuat risau adalah, deretan kejahatan itu didominasi oleh tindakan asusila persetubuhan.

Pelaku pun tak pandang bulu terhadap korban, ada yang orang baru dikenal hingga orang terdekat.

Rekomendasi Untuk Anda

Satu diantara kasus kejahatan anak di bawah umur yang baru-baru ini terjadi di Kota Jambi adalah kasus perdagangan wanita di bawah umur.

Pelakunya, wanita yang masih berusia 16 tahun. Motif perdagangannya adalah menawarkan rekannya kepada lelaki hidung belang.

Kasubdit IV PPA Ditreskrimum Polda Jambi, AKBP Zainal Arrahman mengatakan, kasus kriminal anak cenderung meningkat tiap tahun.

“Kebanyakan, pelaku yang terlibat dalam tindak pidana tersebut usia 17 hingga 18 tahun. Usia tersebut yang paling dominan dan itu dikenakan Undang-Undang Perlindungan Anak," kata Zainal kepada Tribun, Kamis (11/8/2016).

Ia memaparkan, berdasarkan pemeriksaan, umumnya mereka yang terlibat tindak kejahatan karena faktor ekonomi dan sebagian berasal dari keluarga yang tak harmonis. Faktor lain salah pergaulan, sehingga terjerumus dalam aksi kejahatan tersebut.

"Kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga ekonomi lemah dan broken home. Orangtuanya tidak jelas dimana, sehingga mereka tinggal bersama kakak, nenek, atau kerabatnya yang lain,” papar AKBP Zainal.

Angka yang tak kalah mengagetkan juga dibeber Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan (BPMPP) Provinsi Jambi.

Agus Santoso, Kasubid Perlindungan Anak di Perlindungan Pusat Kegiatan Terpadu yang menyediakan pelayanan bagi perempuan dan anak mengatakan kasus kekerasan pada anak atau oleh anak seperti fenomena gunung es.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas