Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Kisah Perjuangan Bapak dan Anak Terombang-Ambing 10 Jam di Laut Setelah Perahunya Terbalik

- Perahu nelayan milik warga Paciran, Lamongan, diterjang ombak besar hingga terbalik, Jumat (27/1/2017).

Kisah Perjuangan Bapak dan Anak Terombang-Ambing 10 Jam di Laut Setelah Perahunya Terbalik
Surabaya.tribunnews.com/hanif manshuri
Rohis saat telah dievakuasi ke pelabuhan Brondong setelah 10 jam terombang-ambing di laut, Jumat (27/1/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, LAMONGAN - Perahu nelayan milik warga Paciran, Lamongan, diterjang ombak besar hingga terbalik, Jumat (27/1/2017).

Dalam insiden itu, pasangan bapak dan anak yang menjadi penumpang perahu, selamat setelah bertahan hidup di laut lepas dengan berpegangan pada bangkai perahu selama 10 jam.

Dua penumpang itu adalah Rohis (58) dan Fatkhul Kutub (32). Mereka tiba di Pelabuhan Brondong, Jumat dinihari sekitar pukul 03.25 WIB setelah diselamatkan oleh awak kapal morot nelayan Ridho Putra milik Mujianto, warga desa Kandangsemangkon, Paciran.

Para awak kapal Ridho Putra itu bertemu dua korban di perairan yang berjarak sekitar 20 mil dari daratan Paciran.

Menurut Rohis yang dirawat di PKU Muhammadiyah Paciran, salah satu korban, perahunya terbalik akibat diterjang ombak besar.

"Bukan tabrakan, tapi perahu saya terbalik setelah diterjang ombak," kata Rohis.

Dia pun bercerita, insiden bermula ketika Kamis (26/1/2017) dinihari dia dan anaknya berangkat melaut dari pantai Paciran ke perairan yang berjarak 18 mil untuk mengangkat jaring.

Sekitar pukul 08.00 WIB, ombak besar datang berkali-kali dan membuat mereka gagal mengangkat jaring.

Tak hanya gagal, perahu mereka yang kecil terhempas lalu terbalik meski mereka sudah berusaha tidak melawan arah ombak.

"Pelampung tidak ada, kami hanya cari selamat dengan berpegangan bangkai perahu,"ungkap Rohis.

Kedua korban berpegangan badan perahu hampir 10 jam lamanya agar tidak tenggelam. Akibatnya mereka pun dibawa arus hingga mencapai 2 mil dari lokasi terbaliknya perahu.

Saat menjelang petang, barulah mereka bertemu dengan KMN Ridho Putra.

Dengan kondisi yang semakin lemah, kedua korban diangkat ke kapal dan dibawa ke pelabuhan Brondong.

"Kejadian itu jelas kecelakaan tunggal. Tanpa ada lawan alias bukan karena tabrakan,"kata Kasat Polair Lamongan, AKP Ahmad Fadelan kepada Surya.co.id, Jumat (27/1/2017).

Editor: Sugiyarto
Sumber: Surya
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas