Ini Pengakuan Lengkap Brigadir Medi Tentang Keterlibatan Istri Anggota DPRD yang Dimutilasi
Penjelasan Medi ini disampaikan saat membacakan duplik di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Rabu (12/4/2017)
Penulis:
Wakos Reza Gautama
Editor:
Eko Sutriyanto
Sekitar pukul 15.00 WIB, Medi sempat menghubungi telepon Anton namun tidak diangkat.
Dua jam kemudian, Anton menghubungi Medi.
Anton mengatakan terjadi ‘kecelakaan’ dan akan ke rumah Medi habis magrib.
Anton datang ke rumah Medi membawa mobil Innova Pansor.
“Anton bilang Pansor melakukan perlawanan sehingga dilumpuhkan dengan senjata api dan mayat Pansor ada di kardus di belakang mobil,” cerita Medi.
Medi kaget dan panik.
Anton meminta uang untuk melarikan diri dan memberikan uang Rp 2,5 juta sisa uang pemberian Umi.
Medi akhirnya menghubungi Tarmidi mengajaknya membuang mayat di Martapura, OKU Timur, Sumatera Selatan.
Keesokan harinya, Umi menghubungi Medi menanyakan rencana memberi pelajaran ke Umi. '
Medi memberitahu bahwa Pansor melalukan perlawanan sehingga terjadi ‘kecelakaan’.
“Saya meminta maaf ke Umi dan atur rencana agar Umi tidak terbawa-bawa,” terang Medi.
Pada saat itu, tutur Medi, Umi ketakutan.
“Umi bilang takut dibuang oleh keluarga Pansor karena ada adiknya yang bupati. Umi juga diusir dari rumah Pansor,” ujar Medi.
Anton kembali menghubungi Medi meminta uang Rp 50 juta untuk melarikan diri.
Anton berjanji tidak akan menyeret Medi jika tertangkap. Akhirnya Medi memutuskan menjual mobil Innova Pansor.
Medi bersama Tarmidi dan Anton bertemu di Merak, Banten. Medi menyerahkan mobil ke Anton.
Empat hari kemudian, Medi menyuruh Anton membawa mobil itu ke Ruslin, anggota Kostrad. Medi menjualnya seharga Rp 45 juta.