Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kisah Fatimah dan Ibunya, Hidup di Pinggir Rawa, 9 Tahun Hanya Makan Mie Instan

Dalam kondisi hamil, Bu Nur meninggalkan rumahnya dan memutuskan untuk membuat gubuk di tanah dekat rawa bekas galian tambang pasir.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Kisah Fatimah dan Ibunya, Hidup di Pinggir Rawa, 9 Tahun Hanya Makan Mie Instan
Istimewa
Siti Fatimah 

Saat kondisi air pasang, Bu Nur memberanikan diri untuk berenang melewati rawa demi menjual kangkungnya ke warung seberang karena tak ada alat transportasi kecuali dengan ban dalam bekas.

Saat surut, ia berjalan melewati rawa dan sungai.

"Saat saya bangunkan huntara, Fatimah ini ia sibuk sekali dengan bukunya, ia terus belajar, menikmati sekali belajarnya. Ia anak yang rajin dan selalu juara di sekolah, ngajinya juga rajin tak pernah sekali pun bolos. Ia tetap masuk meskipun sakit. Anaknya semangat," jelas Ustaz Munawir.

Sungguh, saya merasa tertampar bertemunya, menangis hati ini bertemu dengan Bu Nur yang selalu senyum sumringah.

Malu rasanya jika kita hidup berkecukupan namun masih banyak mengeluh kurang ini itu.

Malu rasanya mendengar kisahnya dan bertemu dengan Fatimah yang selalu ceria.

Setiap hari 2 perempuan tangguh ini hanya mengkonsumsi mie instan.

Rekomendasi Untuk Anda

Ya, hanya mie instan selama 9 tahun di gubuk kecil, memasaknya di atas tungku dengan kayu-kayu kering.

Mungkin kita tahu namanya rawa, tak ada air bersih tersedia. Namun Allah Maha Adil, 20 meter dari gubuk Fatimah, ada sumber air bersih dan jernih.

Ia minum dan mandi di sana tanpa penghalang dan MCK yang layak. Sulit dipercaya ada sumber di sana, namun inilah kuasa Allah.

Kita beruntung bisa bertemu Fatimah.

Bukan dia yang butuh bantuan kita, namun kitalah yang butuh dia untuk menjalankan kewajiban kita sebagai manusia yang punya cinta.

Bisa saja Tuhan menunjukkan pada orang lain tentang Fatimah.

Namun kali ini Tuhan memilih kita mendengar kisah Fatimah dan ibunya.

Bukan tanpa alasan, Sang Pencipta mempercayakan Fatimah pada kita karena kita mampu untuk peduli.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas