Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kisah Mertolulut dan Singonegoro, Dua Algojo Kerajaan Yogyakarta Tempo Dulu

Di antara mereka yang duduk di kursi mengelilingi meja itu, satu sosok berkumis tampak garang memandang ke arah kamera.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Kisah Mertolulut dan Singonegoro, Dua Algojo Kerajaan Yogyakarta Tempo Dulu
Tribun Jogja
Patung Mertolulut algojo Keraton Yogyakarta zaman dulu. Krisna Sumargo duduk di samping patung tersebut. 

Sedangkan lokasi eksekusi menurut Daliman, dulu dilakukan di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Biasanya di antara dua pohon beringin yang ada di tengah lapangan luas itu.

"Kalau pengadilannya ya di Bangsal Ponconiti di Kemandungan Lor," imbuh Daliman.

Dinamai Ponconiti karena maknanya ponco itu lima, niti itu hal atau masalah.

Jadi umumnya ada lima hal atau perkara yang biasanya diselesaikan proses hukumnya di bangsal ini. Lima hal itu menyangkut pelanggaran mabuk, madat, madon, mencuri, dan membunuh.

Sesudah hukuman dijatuhkan pengadilan, Mertolulut dan Singonegoro dipanggil untuk mengeksekusi hukumannya atas perintah raja.

"Prosedurnya para algojo ini ya, terpidana ditutup wajahnya, kemudian eksekusi disaksikan banyak orang," ujar Mada Karisma menggambarkan proses eksekusi pada masa silam.

Kadang terhukum dipamerkan beberapa lama di ruang terbuka agar selain publik mengetahui, juga supaya efek takut dan patuh terbangun sesudahnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Supriyanto, pemandu turis yang biasa bertugas di Pagelaran dan Sitihinggil mengaku hapal dengan versi cerita sejarah Mertolulut dan Singonegoro.

"Ini potongan cerita yang wajib disampaikan ke turis sebelum naik Sitihinggil," katanya.

Postingan Mada Karisma di akun FB komunitas KKJ memantik rasa ingin tahu sejumlah warganet.

Baca: Kekayaan Dokter Katsuya Takasu Dihabiskan untuk Membantu Orang Susah di Jepang dan Luar Negeri

Sebagian takjub atas cerita singkat itu dan ingin mendapatkan kisahnya lebih lengkap.

Ada juga yang menginformasikan, para algojo yang dijuluki Mertolulut dan Singonegoro itu dulu ditempatkan di wilayah khusus bersama keluarganya di luar tembok keraton.

Sekarang jejak Mertolulut memang diyakini masih terangkai dengan keberadaan Kampung Mertolulutan di Kecamatan Ngampilan. Warga sekitar umumnya menyebut Kampung Merto saja.

Kampung Mertolulutan ini terletak dekat sentra Bakpia Pathuk.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas