PUPR Dukung Pengembangan Bandara Tanjung Harapan Sampai Runway Sepanjang 1.850 Meter
Proyek pengembangan bandar udara Tanjung Harapan, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan dikebut.
Editor: Hendra Gunawan
Laporan wartawan Tribun Kaltim Muhammad Arfan
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Proyek pengembangan bandar udara Tanjung Harapan, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan dikebut.
Untuk memenuhi standar keamanan penerbangan ruas jalan nasional letaknya melintang sekitar 400 meter dari ujung landasan pacu sudah mulai dikeruk.
Pengerukan ruas jalan ini menelan biaya Rp 2,37 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kalimantan Utara Tahun 2017.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPR Perkim) Suheriyatna menginginkan kontraktor bisa menyelesaikan proyek pengerukan jalan menanjak tersebut sebelum akhir tahun tiba.
Pemotongan ruas jalan yang menanjak ini dilakukan untuk mendukung proyek pengembangan bandara Tanjung Harapan khususnya perpanjangan landasan pacu dari 1.400 meter menjadi 1.600 meter.
Penambahan 200 meter landasan pacu saat ini masih berproses. Pengamatan Tribun, Senin (7/8/2017) bantalan landasan pacu sudah diagregat dan siap untuk diaspal.
"Kami dukung penuh proyek pengembangan ini. Karena bandara ini sangat penting sebagai pintu gerbang keluar masuk," kata Suheriyatna, Senin (7/8/2017) saat meninjau proyek pemotongan ruas jalan ini.
Pemprov Kalimantan Utara lanjut Suheriyatna akan membantu Pemkab Bulungan dalam membaskan lahan untuk pengembangan bandara ini.
Puluhan hektar lahan masih dibutuhkan untuk melengkapi segala fasilitas sisi darat dan sisi udara bandara ini. Seperti akan dipindahkannya terminal penumpang dari sisi barat saat ini ke sisi timur.
"Kalau tingkat dua (Pemkab Bulungan) tidak bisa membebaskan karena terkendala anggaran, maka kalau ada bantuan keuangan kepada Pemkab, kita arahkan untuk pembebasan lahan," ujarnya.
Tahun depan direncanakan landasan pacu diperpanjang kembali menjadi 1.850 meter. Untuk perpanjangan tersebut perlu membebaskan lahan milik masyarakat.
"Kalau sampai 1.850 meter, maka pesawat tipe Bombardir bisa masuk," ujarnya. (wil)