Tribun

Dirut Palmec Effendi Buron, Diduga Wanprestasi Pembangunan Pabrik GBS

Polda Sumsel memasukkan Dirut PT Palmec Effendi Chandra dalam daftar pencarian orang diduga wanprestasi.

Editor: Y Gustaman
zoom-in Dirut Palmec Effendi Buron, Diduga Wanprestasi Pembangunan Pabrik GBS
Net

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTABerkas perkara dugaan penggelapan dan penipuan pembangunan pabrik kelapa sawit anak usaha PT Gozco Plantations Tbk, PT Golden Blossom Sumatra, dinyatakan lengkap.

Dalam kasus ini jaksa penyidik Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan telah menetapkan tersangka Direktur Utama PT Palmec Surya Subur Lestari, Effendi Chandra.

Hal ini sesuai dengan surat Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan nomor B-2134/N.6.4/Epp.1/04/2017 yang ditandatangani Jaksa Utama Pratama Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan Yusron di Palembang pada 26 April 2017.

“Setelah dilakukan penelitian ternyata hasil penyelidikannya sudah lengkap. Selanjutnya dilakukan proses penyerahan tersangka dan barang bukti,” tulis Yusron dalam surat P21 yang diperoleh wartawan di Jakarta belum lama ini.

Meski berkas perkaranya sudah dinyatakan P21 oleh kejaksaan, penyidik belum melimpahkan berkas acara pemeriksaan dan tersangka Efendi ke kejaksaan karena kabur.

Polda Sumsel telah memasukkan Effendi dalam daftar pencarian orang (DPO) sesuai dengan surat Polda Sumsel nomor DPO/139/VI/2017/Ditreskrimum pada 14 Juni 2017.

Kasus dugaan penggelapan dan penipuan dengan tersangka Effendi bermula saat PT Palmec, perusahaan kontraktor asal Medan, ditunjuk sebagai kontraktor pembangunan pabrik kelapa sawit GBS, anak usaha PT Gozco Plantations Tbk, dengan kapasitas 45 ton per jam di Sumatera Selatan pada 21 April 2010.

Nilai kontrak proyek tersebut mencapai Rp 108,35 miliar dengan jangka waktu pengerjaan 18 bulan atau ditargetkan selesai Oktober 2011.

Hingga Oktober 2011, Palmec tak kunjung menyelesaikan pembangunan pabrik tersebut dengan alasan kenaikan harga material pembangunan pabrik.

Palmec kemudian meminta revisi naik nilai kontrak proyek dan permintaan tersebut disetujui GBS dengan menambah nilai kontrak sebesar Rp 20 miliar, sehingga total kontrak naik menjadi Rp 128,25 miliar.

Palmec juga diberikan tambahan waktu pengerjaan hingga 12 bulan sejak ditandatangani perubahan kontrak kedua tersebut.

Meskipun nilai kontrak sudah dinaikkan dan jangka waktu pengerjaan ditambah, Palmec tak kunjung menyelesaikan pembangunan pabrik tersebut. GBS kembali memberikan toleransi perpanjangan waktu pengerjaan kontrak selama 12 bulan atau dengan target penyelesaian sampai dengan September 2015.

Namun, Palmec tetap tak kunjung menyelesaikan pembangunan pabrik tersebut. Bahkan, kontraktor tersebut menghentikan seluruh kegiatan pembangunan di lapangan secara sepihak.

Atas kejadian tersebut GBS kembali meminta Palmec untuk merampungkan pekerjaan tsb sesuai dengan dana yang telah di bayarkan oleh GBS.

Namun Palmec tetap tidak mau bergerak apabila tidak ada lagi tambahan dana dari nilai kontrak yang terakhir walaupun pada saat itu GBS telah melakukan kelebihan pembayaran sebesar Rp 40 miliar dari apa yang telah di kerjakan oleh Palmec.

Atas hal ini, GBS kemudian melaporkan Palmec ke Polda Sumsel pada 16 April 2016 dengan nomor laporan LPB/291/IV/2016/SPKT Polda Sumsel.

Berdasarkan hasil penyidikan, Polda Sumatera Selatan menetapkan Effendi sebagai tersangka penipuan dan penggelapan.

Effendi juga sempat ditahan, namun kemudian penangguhan penahanannya dikabulkan dengan alasan bersedia menyelesaikan seluruh kewajibannya. Hanya saja, masa penangguhan tersebut dimanfaatkan sebagai cara untuk melarikan diri.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas