BNPB Terbangkan Drone Pantau Kawah Gunung Agung
Drone adalah salah satu teknologi baru yang paling menjanjikan dan ampuh untuk meningkatkan respon bencana.
Editor:
Eko Sutriyanto
Tidak banyak drone yang memiliki kemampuan terbang tinggi.
Rata-rata drone didesain terbang pada ketinggian 7.000 kaki sehingga saat diperlukan untuk terbang tinggi tidak banyak yang tersedia.
Baca: Harddisk untuk Drone dan PS4 Besutan Seagate Bisa Dipesan di Indonesia
Drone Koax 3:0 dan Tawon 1.8 memiliki kemampuan terbang hingga 13.000 kaki dan mesin menggunakan baham bakar ethanol agar dapat terbang tinggi.
Drone rotary wing digunakan mampu terbang ketinggian 500 meter untuk memetakan permukiman dan alur-alur sungai.
Untuk mendukung semua itu digunakan Ground Control Station yang mobile.
Persiapan terbang telah dilakukan pada Rabu (11/10/2017). Flight plan dan ujicoba terbang telah dilakukan hari ini dari landas pacu di Kubu.
Siang tadi flight plan terbang berputar Gunung Agung sampai ketinggian 11.500 kaki telah dilakukan menggunakan drone jenis Tawon 1.8.
Namun saat drone terbang diketinggian 6.000 kaki, kamera mengalami masalah maka drone kembali ke landasan.
Pesawat normal dan mampu terbang tetapi adanya risiko blind flight di gunung maka penerbangan tidak dilanjutkan.
Rencana misi penerbangan akan dilakukan besok Kamis pagi (12/10/2017) dari Kubu.
Baca: Gubernur Bali Koreksi Jumlah Pengungsi Gunung Agung
Penggunaan drone untuk penanggulangan bencana bukanlah hal yang baru.
Untuk kebutuhan kaji cepat yang efektif, drone sangat bermanfaat.
Keluwesan terbang drone, baik vertikal maupun horizontal dalam jangkauan tertentu, serta kemampuan mengambil gambar dari ketinggian tertentu, drone telah menawarkan gambar atau landscape berbeda dalam melihat peristiwa bencana.
Baca tanpa iklan