Calon Gubernur Ini Diprediksi Angkat Elektabilitas Prabowo di Jatim
LKPI menggelar survei ketiga jelang pemilihan gubernur Jawa Timur 2018.
Editor: Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- LKPI menggelar survei ketiga jelang pemilihan gubernur Jawa Timur 2018.
Survei yang digelar mulai tanggal 20 Oktober - 30 Oktober 2017, menempatkan nama La Nyalla Matalitti unggul dibanding dengan calon gubernur Jatim lainnya.
La Nyalla diprediksi dapat mengangkat elektabilitas Prabowo di Jawa Timur pada Pilpres mendatang. Dibanding dua kandidat lain yakni Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul dan Khofifah Indar Parawansa yang diusung partai pemerintah.
"Jika Gerindra salah mengusung Cagub di Jawa Timur, sudah dipastikan nantinya Joko Widodo akan unggul di atas 60 persen di Jawa Timur pada Pilpres 2019," ujar Direktur Eksekutif LKPI Arief Nur Cahyono dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/11/2017).
Pasalnya kata dia, selama bulan September - Oktober dari penelitian Lembaga Kajian Pemilu Indonesia, nama-nama bakal Calon Gubernur Jawa Timur sudah mengerucut menjadi 3 nama yaitu Syaifullah Yusuf yang sudah diusung oleh PDI- Perjuangan dan PKB.
Kemudian Khofifah Indar Parawansa yang diusung Nasdem, PPP, Golkar, Hanura, yang semuanya adalah parpol pendukung Jokowi-JK.
"Sementara La Nyalla Mataliti belum diusung oleh Partai Politik yang punya hak mengusung dan memiliki jumlah kursi di DPRD Jatim seperti Gerindra,PAN,PKS,Demokrat," katanya.
Hasil temuan survei dari 900 orang responden, sebanyak 69,2 persen berpendapat bahwa pertarungan pilkada Jawa Timur punya hubungan erat dengan Pemilu 2019 dalam persaingan antara partai pendukung Jokowi dan Prabowo Subianto.
Untuk itulah kata Arief, Gerindra sebagai pengusung Prabowo wajib mengusung kadernya sendiri.
"Ya kader Gerindra saat ini ya La Nyalla," paparnya.
Dan temuan survei lainnya, dari 78,3 persen responden ternyata mempercayai bahwa pengusungan Syaifullah Yusuf oleh PDI-P dan PKB serta Khofifah Indar Parawansa oleh NasDem.
"Sementara 76,9 persen responden beropini, bahwa partai besutan SBY hanya sebagai penyeimbang dalam perolehan suara Pilpres di Tahun 2019, jika terjadi rematch antara Joko Widodo vs Prabowo Subianto," katanya.
"Nah sedangkan 89,3 persen responden, menilai La Nyalla Mataliti lebih dianggap sebagai tokoh yang mewakili Prabowo Subianto dan Susilo Bambang Yudhoyono serta mewakili parpol non Pemerintah di Jawa Timur," tambahnya.
Apalagi, bebernya, La Nyalla adalah tokoh Jawa Timur yang bisa menyaingi Syaifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa.
"Dari 76,3 Responden menyatakan bahwa suara Warga NU di Jawa Timur akan terpecah kepada ketiga tokoh yaitu Khofifah, Gus Ipul dan La Nyalla. Sementara suara nasionalis yang diwakili PDIP,Golkar,Nasdem ,Gerindra,Partai Demokrat dan PAN akan lebih cenderung memilih La Nyalla Mataliti," imbuhnya.
Sementara itu, pada tingkat keterpilihan tokoh diatas, maka semakin jelas gambaran peta suara di pilkada Jawa Timur yang memiliki korelasi dengan Peta Suara Pilpres 2019 antara Joko Widodo dengan Prabowo Subianto.
"Jika dikomposisikan yang akan memilih Joko Widodo sebanyak 35,1 persen yakni gabungan pemilih Syaifullah Yusuf dan Khofifah. Sementara yang akan memilih Prabowo Subianto sebanyak 33,7 persen suara yang memilih La Nyalla, dan yang belum memilih sebanyak 31,2 persen," ujarnya.
Dalam pelaksanan survei kali ini, LKPI mengunakan jumlah responden sebanyak 900 Warga Jawa Timur yang pada bulan Juni 2018 terdaftar sebagai pemilih di TPS saat berlangsungnya pemungutan suara di 38 kota /kab se Jawa Timur.
"Metodenya adalah penarikan dan penentuan sample/responden terpilih mengunakan multistage random sampling secara proposional antara total DPT sebagai populasi jumlah responden, dengan tingkat kepercayaan 95 % dan margin of error 3,3 persen," paparnya.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.