Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Dayak Kayaan Gelar Ritual Dange di UGM, Ritual Keresahan Leluhur

"Ritual Dange berawal dari keresahan leluhur," kata Dominikus Uyub, orang Dayak Kayaan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Sugiyarto
zoom-in Dayak Kayaan Gelar Ritual Dange di UGM, Ritual Keresahan Leluhur
TRIBUNJOGJA.COM / Tantowi Alwi
Suasana makan bersama Dayak Kayaan dalam ritual Dange. Acar ini berlangsung di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM, Kamis (16/11/2017). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Tantowi Alwi

TRIBUNNEWS.COM, SLEMAN - "Ritual Dange berawal dari keresahan leluhur," kata Dominikus Uyub, orang Dayak Kayaan.

Zaman dahulu, Kule, seorang leluhur dari Dayak Kayaan merasa khawatir anak-cucunya mulai tersebar ke berbagai wilayah dan tidak akan berkumpul kembali.

Kule mencari cara untuk mengumpulkan anak-cucunya tersebut.

Hingga pada akhirnya, Kule menciptakan Dange yang berasal dari kata Ange atau memanggil.

"Ange atau memanggil anak-cucu untuk berkumpul kembali," kata Dominikus Uyub kepada Tribunjogja.com, Kamis (16/11/2017).

Hal ini terdeteksi dari syair lama Dayak Kayaan yang namanya Lawe.

Rekomendasi Untuk Anda

Oleh Kule, ritual Dange dikemas dalam konteks ritual dengan momen yang tepat yaitu mensyukuri hasil pemberian serta karunia alam dan Tuhan.

Dominikus Uyub melanjutkan tujuan ritual Dange yaitu untuk memohon ampun, meminta anugerah, serta sebagai sarana mengumpulkan saudara-saudara yang sudah tersebar ke berbagai daerah.

Ritual Dange bisa dilakukan dengan dua syarat yaitu harus ada pondok atau lepo Dange (tempat berlangsungnya ritual dan sakralitas), serta rumah atau lasah tempat untuk mengantar ritual.

Dominikus Uyub melanjutkan, Lepo Dange dan Lasah merupakan dua hal yang sangat penting sehingga tidak boleh dilakukan ritualbila dua hal tersebut belum ada.

"Yang melaksanakan ritual adalah pemegang ritual Dange, Hipi (pimpinan suku), Hipi memerintahkan kepada Dayung yang berjumlah delapan orang untuk membantu Hipi untuk melangsungkan ritual Dange," kata Dominikus Uyub.

Dayung dipimpin oleh yang bernama Dayung Ayak (Pemimpin besar) untuk membacakan doa-doa adat Dayak Kayaan.

Ritual Dange kali ini diadakan oleh komunitas Dayak Kayaan yang tergabung dalam Hulaan Apo Kayaan, Pontianak, KalimantanBarat dan berlangsung di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM.

Acara ini merupakan rangkaian dari Pesta Seni dan Budaya Dayak se-Kalimantan XV yang diselenggarakan mulai 15 - 17 November 2017. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas