Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Cerita Yaumani, Pedagang Lontong Keliling yang Akan Naik Haji

Mbak Um, panggilan Yaumani, tinggal di rumah sederhana di Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo tersebut bersama anak keduanya

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Cerita Yaumani, Pedagang Lontong Keliling yang Akan Naik Haji
M Taufik/Surya
Yaumani, penjual lontong kupang asal Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo yang tahun ini Berangkat haji 

Dirinya mengaku hanya selalu berusaha dan berniat mencari rejeki untuk keluarga.

Sehingga ketika dagangan tidak habis terjual juga tidak pernah mengeluh.

"Kalau tidak habis ya dibawa pulang. Kan bisa dimakan bersama anak-anak di rumah," ujar Mbak Um.

Dengan pendapatan pas-pasan, dia tetap selalu bertekad agar anak-anaknya bisa hidup lebih baik.

Meski dirinya hanya sekolah MI (setingkat SD), dia tidak mau anak-anaknya tidak sekolah.

"Biar saya saja yang rekoso (sengsara), anak-anak harus sekolah. Harus lebih pinter dari saya.

Makanya, meski harus hutang ke sana-kemari, saya lakoni demi sekolah anak," tutur perempuan bertubuh kurus itu.

Rekomendasi Untuk Anda

Diceritakannya, saat dua anaknya sudah sama-sama SMA, kerap bingung setiap kali harus bayar sekolah.

Untungnya, dua anaknya juga sabar, sehingga mau gantian.

Baca: ‎Mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai Tidak Lolos Seleksi Administrasi Capim KPK

Baca: Kain Kasa Busuk di Dalam Perut Pasien, Polisi Akan Gelar Perkara Dugaan Malpraktik RS di Tubaba

Terkadang anak pertama dulu dibayari, kadang sebaliknya.

"Kalau tidak ada uang ya apapun saya jual. Biasanya saya jual cincin atau anting emas untuk bayar sekolah. Tidak apa-apa demi anak," tambahnya.

Karena lokasi sekolah jauh, anak-anaknya saban hari harus nebeng ke tetangga untuk berangkat dan pulang sekolah.

Bahkan, acap kali Mbak Um tak punya uang untuk memberi uang saku kepada anaknya.

Jika itu terjadi, biasanya anak-anak dipinjamkan uang ke tukang ojek atau ke pedagang di pasar.

Sore hari setelah pulang dari keliling jualan kupang, hutang untuk uang saku anaknya baru dibayar.

Sumber: Surya
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas