Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

Bak Perbudakan, Pahitnya Awak Kapal Perikanan dari Jateng, Upah Tak Layak Hingga Ancaman Dibunuh

Cerita pahit kerap dialami awak kapal perikanan, baik yang bekerja di dalam negeri atau pun luar negeri.

Editor: Sugiyarto
zoom-in Bak Perbudakan, Pahitnya Awak Kapal Perikanan dari Jateng, Upah Tak Layak Hingga Ancaman Dibunuh
Humas KKP
ilustrasi 

Meskipun demikian, kekerasan terhadap ABK kapal lain pernah dilihatnya.

"Ada yang ditusuk, dipukul, ditendang, macam- macam," ucapnya.

Dia dan beberapa ABK perikanan di Jateng sempat mengikuti lokakarya dengan tema menciptakan praktik kerja yang layak bagi awak kapal perikanan di Provinsi Jawa Tengah.

Acara itu diadakan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jateng bekerjasana dengan Yayasan Plan International Indonesia dan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia.

Koordinator Nasional Yayasan Plan Indonesia, Roosa Sibarani, menuturkan masih banyak praktik kerja paksa dan eksploitasi kerja serta perdagangan orang di sektor perikanan yang berasal dari Jateng.

"Jawa Tengah menyimpan sumber daya perikanan dan menjadi andalan.

Tapi juga sekaligus menjadi penyuplai tenaga kerja perikanan yang terbanyak berdasarkan survei kami," kata koordinator organisasi yang fokus di bidang tenaga kerja perikanan ini.

Berita Rekomendasi

Awak kapal perikanan di Jateng, lanjutnya, banyak tersebar di perairan Indonesia.

Seperti ke Sibolga, Merauke, Ternate, dan Arafuru.

Kemudian, kantong- kantong pekerja yang menjadi ABK perikanan paling banyak warga Pemalang, Tegal, dan Brebes.

Meski banyak praktik kekerasan yang dialami awak kapal perikanan, para pekerja di sektor ini terus bermunculan.

Rekrutmen melalui agen tenaga kerja dengan iming-iming gaji dan kehidupan yang lebih baik, membuat banyak orang Indonesia yang ingin bergelut sebagai awak kapal perikanan ini.

Selain itu, buruh nelayan ini menjadi korban perbudakan lewat skema gelap agen tenaga kerja lokal.

Alih- alih mencari penghidupan yang lebih baik berujung di neraka perbudakan.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2025 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas