Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Konflik Tapal Batas Manggarai Timur dan Ngada, Seorang Tewas, 3 Lainnya Tertembak

Konflik tapal batas Manggarai Timur dan Ngada, Sabtu (19/10/2019) menyebabkan seorang korban meninggal dunia bernama Tadeus Taang.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Konflik Tapal Batas Manggarai Timur dan Ngada, Seorang Tewas, 3 Lainnya Tertembak
Istimewa
Pertemuan Kapolres Manggarai, Wabup Manggarai Timur dan Danramil Elar bersama warga Desa Sangan Kalo, Kecamatan Elar Selatan. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Aris Ninu

TRIBUNNEWS.COM, BORONG - Konflik tapal batas Manggarai Timur dan Ngada, Sabtu (19/10/2019) menyebabkan seorang korban meninggal dunia bernama Tadeus Taang (65), warga Dusun Ruping Mok, Desa Benteng Tawa 1, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada.

Selain itu, ada korban luka tembak dan kena busur panah dari bambu yakni Frans Remba (55), Gaspar Talas (50) dan Largus Japung (55). Ketiganya warga Desa Sangan Kalo, Kecamatan Elar Selatan.

Kejadian itu bermula pada Sabtu (19/10/2019) di dataran Gising pukul 10.00 Wita.

Warga Desa Sangan Kalo berjumlah 17 orang menuju lokasi dataran Gising untuk melakukan pengukuran lahan yang selama ini digarap oleh warga Desa Sangan Kalo, Felix Limbo.

Baca: Iis Dahlia Minta Orang yang Suka Buat Rusuh Untuk Ngaca pada Diri Sendiri

Felix dalam keterangannya menjelaskan, pada hari Sabtu tanggal 19 oktober 2019 pukul 10,00 Wita, bertempat di lokasi dataran Gising bagian barat pihaknya melakukan kegiatan pengukuran lahan yang dikerjakan selama ini belum sempat dipatok.

Saat patok, muncul 3 orang dari Kali Wae Mapar, warga Benteng Tawa 1.

Rekomendasi Untuk Anda

Mereka naik area Manggarai Timur dan muncul dari penggilingan Kampung Romping.

Pertemuan Kapolres Manggarai, Wabup Manggarai Timur dan Danramil Elar bersama warga Desa Sangan Kalo, Kecamatan Elar Selatan.
Pertemuan Kapolres Manggarai, Wabup Manggarai Timur dan Danramil Elar bersama warga Desa Sangan Kalo, Kecamatan Elar Selatan. (Istimewa)

Mereka menyebar sepanjang area yang menjadi tempat patok.

"Kami akhirnya gulung meteran dan menyisir sepanjang hamparan yang kami kerjakan jarak 500-600 meter. Kami berbelok ke arah selatan dan berteduh di sebuah pondok. Kami melakukan diskusi agar kegiatan pengukuran ditunda, karena kami personel kurang ketimbang warga Romping," katanya.

Sementara diskusi, muncul warga Umandawa bernama Edi Kulas.

Baca: Siapa Bertahan Jadi Menko? Nama-nama Menteri Kabinet Kerja Jilid II Beredar, Presiden Segera Umumkan

"Dia datang memberikan informasi agar jangan melakukan kegiatan hari ini karena istri dan anaknya dengan mobil ada di kali," kata Felix.

Felix kemudian menjawab untuk lakukan kegiatan karena warga di sebelah lebih banyak sekitar 200 orang dan pihaknya cuma 17 orang.

"Bapak pergi ambil istri dan anak pulang sudah jangan sampai mereka menyerang bapak dan istri. Dia pergi jemput istrinya, pas di batas area yang kami kerjakan warga Benteng Tawa 1 langsung ke luar dan menyerang," jelas Felix.

Menurut Felix, pihaknya yang sedang berteduh membelakangi sehingga tidak melihat warga Romping yang datang karena kebisingan angin.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas