Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Harga Babi di Bali Anjlok, Ini Penyebabnya

Banyaknya babi mati mendadak di beberapa kabupaten di Bali membuat harga daging babi merosot.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Sugiyarto
zoom-in Harga Babi di Bali Anjlok, Ini Penyebabnya
Tribun Bali/ I Made Ardhiangga
Salah satu kandang di peternakan babi Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Jembrana, Bali. Antsipasi Virus AFS, Peternak di Buleleng Diimbau Tidak Membeli Babi dari Daerah Lain 

TRIBUNNEWS.COM, BALI - Banyaknya babi mati mendadak di beberapa kabupaten di Bali membuat harga daging babi merosot.

Pasalnya, bebebrapa peternak babi cepat-cepat menjual babinya yang sakit dengan harga murah. 

Bahkan daging babi sehat, sejauh ini masih layak untuk dikonsumsi.

Sehingga masyarakat diharapkan tidak perlu cemas dalam mengonsumsi daging babi.

Hal itu dikatakan Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali, Ketut Hari Suyasa, Jumat (31/1/2020)

“Sebenarnya ini kejadian yang luar biasa. Sehingga sangat berdampak dengan konsumen maupun peternak,” ujarnya.

Pihaknya mengaku sangat menyayangkan hasil laboratorium yang tidak kunjung keluar, dengan alasan yang berhak untuk mengumumkan hasil laboratorium tersebut adalah Kementrian Pertanian. 

Rekomendasi Untuk Anda

Padahal beberapa kabupaten seperti Badung sudah memberikan sampel darah babi mati mendadak.

“Sebelumnya kami melakukan pertemuan dengan pemerintah, para ahli, peternak maupun stakeholder yang lain. Nah dalam pertemuan tersebut yang berhak menentukan hasil lab adalah Menteri Pertanian,” katanya.

 

Pihak  pemerintah di Kabupaten Badung maupun provinsi, menurutny,a tidak bisa menentukan hasil lab tersebut.

Sehingga pihaknya mengaku masih menunggu hasil dari uji laboratorium tersebut. 

“Melihat dari kejadian ini, kita kan ingin tahu, virus ini african swine fever (ASF) atau bukan, namun tetap masih menunggu,” ungkapnya.

Ia meminta pemerintah cepat bertindak menyelamatkan para peternak yang babinya terkena virus.

“Jadi sebelum diputuskan hasilnya, kita akan terus bergerak dari desa ke desa untuk melakukan penanganan virus yang kita tidak tahu dan tidak ada obatnya,” bebernya

Adanya virus tersebut memang menimbulkan kepanikan masyarakat, bahkan sangat berdampak pada peternak babi.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas