Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Viral 'Nyontek Massal' saat UN untuk Jaga Nama Baik Sekolah, Pengamat: Kegagalan Guru dalam Mendidik

Viral cuitan warganet setelah mengungkap dimanfaatkan jadi sumber contekan oleh guru saat dirinya mengikuti UN. Pengamat sebut guru gagal mendidik.

Viral 'Nyontek Massal' saat UN untuk Jaga Nama Baik Sekolah, Pengamat: Kegagalan Guru dalam Mendidik
SERAMBI Banda Aceh/BUDI FATRIA
Para Komunitas Aceh Jenius berunjuk rasa di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Rabu (2/5). Dalam aksi itu, mereka mendukung gerakan anti mencontek dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi serta memberikan penghargaan sebesar-besarnya kepada guru dan murid yang jujur dalam proses belajar mengajar. SERAMBI/BUDI FATRIA 

TRIBUNNEWS.COM - Pengamat pendidikan asal Surabaya, Moch Isa Anshori memberikan tanggapan terkait viralnya cuitan 'nyontek massal' saat UN.

Menurutnya, sekolah yang melakukan praktik nyontek massal ini, gagal menerapkan pendidikan karakter pada siswanya.

Terlebih, saat praktik nyontek massal ini diutus langsung oleh gurunya sendiri.

"Sekolah meluluskan anak tidak baik, dan hal tidak baik itu disuruh oleh gurunya sendiri."

"Itu sudah jauh dari nilai-nilai yang ada di pendidikan karakter."

"Saya kira gurunya yang harus diajari pendidikan karakter," ujar mantan Ketua Dewan Pendidikan Surabaya ini kepada Tribunnews, Jumat (26/6/2020).

Baca: Viral Pengalaman Nyontek Massal Saat UN untuk Jaga Nama Baik Sekolah, Pengamat: Ini Pembangkangan

Baca: Kisah Haru Wisudawan Terbaik soal Pendidikan di Tanah Papua, Hanya Miliki Satu Guru & Buku Terbatas

Pengamat pendidikan asal Surabaya, Moch Isa Anshori.
Pengamat pendidikan asal Surabaya, Moch Isa Anshori. (Tribunnews/Istimewa)

Isa mengatakan, buntut dari 'nyontek massal' ini, sekolah seharusnya bertanggung jawab untuk meningkatkan pendidikan karakter pada guru.

Hal itu supaya guru memahami apa yang harus diajarkan kepada siswa.

"Gurunya yang menjadi kunci, harus tahu mana yang jujur dan mana yang curang."

"Karena guru memiliki tanggung jawab untuk menjadikan anak-anak jujur dan bertanggung jawab," jelas Isa.

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: Inza Maliana
Editor: Muhammad Renald Shiftanto
Sumber: TribunSolo.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas