Gubernur Irwan Prayitno Sebut MTQ ke-28 Nasional di Sumbar, Bernuansa Tradisi Adat Minangkabau
Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Irwan Prayitno mengemukakan, pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) kali ini memang luar biasa, karena diselengga
Editor: Emil Mahmud
TRIBUNNEWS.COM, PADANG - Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Irwan Prayitno mengemukakan, pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) kali ini memang luar biasa, karena diselenggarakan kental dengan tradisi adat Minangkabau.
Menurutnya, adat Minangkabau kental dengan ajaran Islam, karena memiliki filosofi "adaik basandi syara', syara' basandi kitabullah" dan tentu dengan pendekatan Islam.
"Gabungan itulah yang ditampilkan dalam pembukaan MTQ yang kami apresiasi. Mereka yang terlibat Alm. Nazif Bazir dan Elly Kasim, tentu kita apresiasi kepada beliau dan kepada tim yang telah bekerja keras mensukseskan acara pembukaan ini, semoga jadi amal saleh," harap Irwan Prayitno.
Sejauh ini imbuh Irwan Prayitno bahwa MTQ ke-28 Nasional kali ini merupakan event serupa, yang sudah dua diselenggarakan di Sumbar.
"Ini saatnya kita kembali menunjukan pelayanan yang terbaik dan mensukseskan MTQ di Sumbar," kata Irwan Prayitno.
Pantauan TribunPadang.com, tampak pertunjukan seni 'Sahadat Mengangkat Harkat' menjadi pembukaan MTQ ke-28 Tingkat Nasional di Stadion Utama Sumbar, Sikabu, Kabupaten Padang Pariaman, Privinsi Sumbar.
Pertunjukan seni tersebut terdiri atas 3 episode yakni diawali episode 1 berjudul Visual Jazirah Arab, bercerita tentang turunnya surat Al-Mudatsir 1-7 sebagai perintah Allah untuk bangun dari tidur, mengagungkanNya, dan meninggalkan perbuatan keji.
"Koreografi kain putih dari penari dan visual multimedia kain putih melayang terkesan terbang sebagai simbol mulainya manusia melepaskan/meninggalkan kelalaiannya dan diakhiri suara syahadat," kata master of ceremony (MC) acara pembukaan MTQ Nasional 2020.
Setelah itu, ditampilkan episode kedua berjudul Minangkabau dan Islami, yakni mengangkat peristiwa bukik marapalam yaitu tentang pertikaian kaum adat dan ulama-ulama yang menamakan dirinya Harimau Nan Salapan.
Mereka saling berhadapan hingga terjadinya konsesus Perjanjian Bukik Marapalam yaitu 'Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah'.