Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pekerja Migran asal Bandung Muntah Darah Setiap Hari di Malaysia

Akibat sakit yang dideritanya, ia menyerah dan meminta bantuan untuk dipulangkan karena tidak memiliki biaya untuk pulang ke Indonesia

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Pekerja Migran asal Bandung Muntah Darah Setiap Hari di Malaysia
Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Wawang Supriatin (53), istri Endik Sopandi saat menunjukkan foto bersama suaminya. Endik sedang sakit di Malaysia dan minta dipulangkan. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Pekerja Migran Indonesia, Endik Sopandi (44) harus mengalami hidup pedih di negeri jiran Malaysia.

Pria asal Kampung Gamlok, RT 06/07, Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) sejak beberapa bulan yang lalu, dia harus menahan rasa sakit.

Akibat sakit yang dideritanya, ia menyerah dan meminta bantuan untuk dipulangkan karena tidak memiliki biaya untuk pulang ke Indonesia.

Dia juga tak punya uang untuk bertahan hidup di perantauan setelah tak mampu bekerja lagi.

"Saya enggak bisa kerja karena muntah darah setiap hari.

Baca juga: Pesan Menaker Ida: Perselisihan Pekerja-Pengusaha Bisa Juga Diselesaikan di Lapangan Futsal

Ke pengurus aparat pemerintah saya minta tolong untuk dipulangkan.

Rekomendasi Untuk Anda

Saya enggak punya biaya, enggak punya dokumen, hanya KK dan KTP," ujarnya melalui sebuah rekaman video berdurasi 12 menit yang diterima Tribun, Selasa (15/6/2021).

Dalam video tersebut, Endik menyebut dia bekerja sebagai TKI di Malaysia sejak 2015.

Tetapi sejak beberapa bulan yang lalu tak bisa lagi bekerja karena kondisi kesehatannya menurun.

Pahitnya hidup Endik di Malaysia itu bermula saat dia berangkat melalui sebuah agen dengan membayar uang sebesar 3.800 ringgit atau sekitar Rp 12 juta.

Dia kemudian bekerja di daerah Langkawi sebagai sopir di pencucian kendaraan.

Di tempat kerja yang pertama itu, Endik hanya bertahan selama 1,5 tahun.

Dia langsung melarikan diri ke daerah Lengkawi karena tidak betah akibat pekerjaan itu tidak sesuai dengan harapan.

"Bekerja hanya dikasih makan sehari sekali. Itu juga hanya mi, bukan nasi," kata Endik.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas