Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Bubur India dan Kopi Arab, Hidangan Khas Ramadan di Kota Semarang

Di Kota Semarang, ada dua sajian khas yang biasa disajikan untuk menyambut bulan Ramadan, yakni Bubur India dan Kopi Arab.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Content Writer
zoom-in Bubur India dan Kopi Arab, Hidangan Khas Ramadan di Kota Semarang
istimewa
Masyarakat di sekitar Masjid Jami Pekojan di Purwodinatan, Kota Semarang memiliki tradisi unik setiap Ramadan, yakni membuat dan membagikan bubur India di masjid sebagai menu buka puasa. 

Kopi Arab

Kopi Arab merupakan sajian kuliner tradisi Ramadan yang menarik di Kota Semarang. Hidangan ini biasa dijumpai sebagai takjil andalan Ramadan di Masjid Layur Semarang.

Kopi ini memiliki jejak legendaris di Kota Semarang. Sejarah mencatat, racikan kopi Arab dibawa pedagang Yaman yang singgah dan menetap di kampung sekitar masjid.

Orang Yaman yang bermukim di Kampung Melayu memiliki kebiasaan membuat kopi sembari menunggu azan maghrib berkumandang. Selain itu, kopi Arab menjadi sajian acara keluarga maupun acara penting lain pada zaman dahulu.

Kopi Arab disajikan dengan perpaduan rempah-rempah sebagai hidangan utama buka puasa. Baik warga setempat, para pendatang, maupun wisatawan yang mampir ke masjid, bisa merasakan kehangatan kopi rempah yang populer dijuluki kopi Arab tersebut. 

Penyajiannya terbilang minimalis, hanya dua teko kopi kemudian dituang ke gelas-gelas kecil. 

Di samping menyediakan kopi, Masjid Layur juga memberikan hidangan berbuka puasa seperti kurma, jajanan pasar, hingga makanan berat.

Rekomendasi Untuk Anda

Tokoh masyarakat setempat, Hamid menjelaskan tradisi ini hanya ada di bulan Ramadan dan tetap dilestarikan hingga kini, meskipun antusias pengunjung berkurang.

"Bagi masyarakat yang ingin menikmati kopi ini, bisa datang sebelum magrib pada bulan ramadan ke Masjid Menara atau Masjid Layur yang ada di Kampung Melayu Kota Semarang," katanya, Sabtu (16/3/2024).

Hamid menyebut, tradisi minum Kopi Arab ini sudah berlangsung sejak 1802. Bahkan, sebelum Masjid Menara atau Masjid Layur berdiri. Kopi Arab kini juga dibuat dengan jumlah yang lebih sedikit, yaitu kurang lebih 50 gelas dalam sehari.

“Biasanya bikin sekitar 40 hingga 50 gelas. Kalau dulu bisa sampai 100, sekarang berkurang,” ujarnya.

Hamid menambahkan, bahan yang dibutuhkan untuk membuat kopi arab berupa rempah-rempah sebagai penghangat tubuh.

“Ada kayu manis, jinten terus serai, kapulaga. Bisa juga ditambahi gula pasir. Kalau kopinya kopi pada umumnya,” tuturnya.(*)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas