Warga Palangka Raya Ingin Menikah? Alphard Kendaraan Dinas Wali Kota Bisa Dipakai Gratis
Warga Palangka Raya ingin menikah? Alphard Kendaraan Dinas Wali Kota Bisa Dipakai Gratis. Hal itu diungkap Wali Kota Palangka Raya Farid Naparin.
Editor:
Glery Lazuardi
Awalnya, Suku Dayak mengadopsi gerakan dan tingkah laku hewan endemik seperti beruk (dikenal dengan sebutan "bangkui") dalam mempelajari silat.
Dengan perkembangan waktu, silat ini tidak hanya menjadi sarana untuk pertahanan diri, namun juga berkembang menjadi bentuk seni budaya yang dihormati.
Lawang Sakepeng kini bukan hanya digunakan sebagai pertunjukan seni dalam acara adat, tetapi juga sebagai simbol kesatria laki-laki yang akan melaksanakan pernikahan.
Atraksi ini dipersembahkan untuk memeriahkan upacara pernikahan dan untuk menyambut kedatangan pengantin laki-laki.
Selain itu, Lawang Sakepeng juga diyakini memiliki nilai spiritual, bertujuan untuk menghindarkan pasangan pengantin dari rintangan dan musibah dalam kehidupan rumah tangga.
Aturan Permainan dan Filosofi
Atraksi Lawang Sakepeng memiliki durasi yang sangat khas, yakni 7 menit dan 7 detik. Tradisi ini diiringi dengan musik pengiring menggunakan dua buah gendang manca dan satu buah gong Dayak.
Kombinasi antara seni bela diri dan gerakan tari tradisional, seperti Tari Kinyah atau Tari Perang, menciptakan sebuah pertunjukan yang penuh energi dan makna.
Biasanya, atraksi ini melibatkan dua pesilat yang berhadapan di sisi yang berbeda, dipisahkan oleh gapura yang dihiasi dengan tiga utas benang sebagai rintangan simbolis. Setiap tali menggambarkan halangan yang harus dihadapi dalam kehidupan berkeluarga:
Benang pertama: Melambangkan pemutusan rintangan marabahaya dalam hidup.
Benang kedua: Menggambarkan pemutusan hubungan yang tidak baik dalam rumah tangga.
Benang ketiga: Melambangkan pemutusan hubungan dengan maut.
Pesilat dari pihak laki-laki berusaha untuk memutuskan tali pemisah ini dengan kemahirannya dalam silat, sehingga mereka dapat menikahi calon istri dan menghadapi kehidupan rumah tangga tanpa hambatan. Para pesilat diharuskan memutuskan tali tersebut dengan kecermatan, serta menghindari cedera saat berhadapan dengan lawan.
Pakaian Adat dalam Atraksi Lawang Sakepeng
Dalam pertunjukan Lawang Sakepeng, pakaian adat Dayak Ngaju menjadi bagian penting dari kesan estetis dan tradisional.
Pemain menggunakan rompi kulit kayu (sangkarut) dan cawat yang bagian depannya dilengkapi dengan lembaran kain nyamu berbentuk persegi panjang yang disebut ewah. Pakaian ini umumnya berwarna cokelat muda, menyerupai warna asli kayu.
Bagian kepala dilengkapi dengan ikat kepala (salutup hatue) untuk pria dan (salutup bawi) untuk wanita, serta aksesoris lainnya seperti giwang (suwang), kalung, dan gelang.